Wednesday, May 4, 2011

Lessons Learned from Finding Forrester Movie


No thinking - that comes later. You must write your first draft with your heart. You rewrite with your head. The first key to writing is... to write, not to think! [William Forrester, Finding Forrester]

Bagi sebagian orang, menulis merupakan bagian dari hidup yang tak bisa dilepaskan dari kegiatan sehari-hari. Ada yang menjadikannya sebagai mata pencaharian; hobi; ataupun media untuk melepas penat. William Forrester dalam film Finding Forrester menjadikan ketiga fungsi menulis tersebut.

Diperankan dengan apik oleh Sean Connery, tokoh William Forrester menjadi mentor bagi Jamal Wallace (Rob Brown), baik dalam hal menulis maupun kehidupan. Lewat menulis, Jamal lebih memaknai hidup dan dapat menyembuhkan rasa sakit dari kehilangan ayah sewaktu kecil.

Film Finding Forrester merupakan film pendidikan yang sarat makna, terutama dalam dialog antara Forrester dan Wallace. Dari film ini, saya belajar banyak hal, yaitu:
1. Setiap orang memiliki metode untuk menemukan tema tulisan dan cara menuliskannya. Susah menulis? Tidak masalah. Semua orang punya potensi untuk menulis. Tak usah hiraukan pakem penulisan yang "benar" dan "terstandarisasi", karena setiap orang itu berbeda. "Hanya" saja, diperlukan latihan secara terus menerus, sehingga terbentuk tulisan yang mampu menjiwai karakter penulisnya dan dapat menyampaikan maksud dengan "baik" kepada pembacanya.

2. Diperlukan penanganan khusus kepada anak dengan kemampuan lebih dibanding teman-temannya. Hal ini bisa kita lihat ketika Jamal mampu mengalahkan Prof. Robert Crawford dalam kemampuan berbahasa. Jika menemui anak dengan kemampuan seperti itu, dorong dia untuk berkarya lebih banyak dan berikan kepercayaan kepadanya. Bukankah, umur bukan menjadi tolok ukur kemampuan seseorang?

3. Bagaimanapun juga, anak tetap membutuhkan figur "Ayah". Ayah dalam hal ini tidak terpaku pada definisi Ayah kandung, tapi lebih kepada peran seorang Ayah. Hal ini dapat kita lihat dari hubungan antara Forrester dengan Jamal, yang tak hanya membimbing dalam hal menulis, tapi juga dalam memaknai kehidupan.

Kesimpulannya, perbanyaklah menulis! Menulis itu juga dapat dipandang sebagai sumbangsih kita terhadap generasi yang akan datang. Merekalah yang akan meneruskan nilai-nilai kita, salah duanya dengan membaca dan memaknai tulisan :)

2 comments:

  1. [ William Forrester dalam film Finding Forrester menjadikan ketiga fungsi menulis tersebut. ]

    Tentang kapasitas diri, bagaimana sosok individu nampak punya "banyak" kemampuan, pengetahuan, atau keahlian, memang dimulai dari fase penemuan diri yang dibarengi dengan eksperimentasi. Berpikir-menulis- berbuat- menulis- berpikir, adalah siklus jamak para "tak terlihat" yang berorientasi terfokus ke karya, tanpa harus sibuk berpikir apakah karya akan diapresiasi, atau tidak.

    Suka mengobservasi film, atau karya lain, semacam buku, komik kan Mutya ? Nah, ini nih, ada karya bagus dari Mas Eric Sasono dkk, mereka sebenarnya punya karya utama, tapi saking banyaknya bakat mereka, mereka juga bikin situs ini, sebagai media berbagi seputar film, dan karya populer lain. Bahasanya asyik, pembahasannya mendalam dan apresiatif, banyak kesan dan pengetahuan yang bisa digunakan, dari penuturan mereka.

    1. http://new.rumahfilm.org/blog/mencatat-film-indonesia-di-tahun-2010/

    2. http://new.rumahfilm.org/artikel-feature/100-film-terbaik-2000-2009-bag-1/

    Monggo berkunjung :)

    ReplyDelete
  2. Ya, mungkin ada baiknya bagi para penulis "pemula" untuk mencoba berbagai tema dalam tulisannya. Secara empiris, hal itu sangat menyenangkan karena secara tak terduga, proses tersebut dapat membawa saya untuk menemukan banyak hal dan pemikiran yang baru.

    Oke, saya berkunjung ke webnya Rumah Film. Oh ya, coba deh Kak Galih nonton film The Express atau Eagle Eye. Bagus :D

    ReplyDelete