Tuesday, March 18, 2014

Sawang Sinawang

Exposing your life on public, leads to disaster. Berbagi foto keluarga atau menceritakan kisah personal di social media, mungkin tampak sepele bagi beberapa orang. Terutama, wanita-wanita yang sedang dilanda euforia karena bertambahnya anggota keluarga.

Dulu, saya termasuk santai saja memasang foto keluarga di social media. Tapi ini berubah sejak beberapa hari yang lalu. Sebuah telp masuk ke nomor hape saya, dan menyebutkan nama asli Ayah saya dengan jelas. Ini aneh karena 1. Nomor hape terbaru saya hanya diketahui segelintir orang. 2. Diantara yang mengetahui nomor hape tersebut, sangatlah sedikit yang mengetahui nama Ayah saya. Kalau itu urusan pekerjaan dengan Ayah, kenapa juga mencari ke hape saya?

You may call it over reacting. Tapi ini membuat saya berpikir. Mungkin ada yang salah dengan mempertontonkan kehidupan personal dan keluarga saya di publik. Meskipun saya tak pernah menyebutkan nama kedua orang tua di socmed, tapi saya telah berbuat salah karena memajang foto mereka. Maka, saya memutuskan untuk menghapus foto-foto mereka. Demi keamanan.

Peluang konflik antar manusia, sebanding dengan intensitas komunikasi dan jumlah populasi dalam suatu wilayah. Kini, wilayah-wilayah di dunia nyata semakin dikaburkan dengan adanya internet. Social media memungkinkan kita untuk berinteraksi dengan siapa saja, dimana saja. Anda akan kebanjiran data. Bahkan tahu ketika seorang istri kecewa dengan suami yang hobi keluyuran. Atau Ibu Darti (bukan nama sebenarnya) yang baru saja membeli sebuah rumah karena ia mengunggahnya ke social media. Mengundang orang lain untuk melihat dan berkomentar.
Saat jumlah lingkaran pertemanan di social media semakin banyak, manusia akan memiliki keinginan untuk membedakan dirinya, dengan manusia lain. Sikap kompetitif akan muncul. Jika diperhatikan, sebagian besar lingkaran pertemanan saya di FB, lebih sering mengunggah foto yang menunjukkan barang, tempat atau suasana yang fancy. "Aku ada karena berada (secara ekonomi)", adalah pesan yang saya tangkap tiap melihatnya. Atau setidaknya menunjukkan bahwa dunia mereka penuh dengan kebahagiaan. Proses melihat orang lain yang memiliki kehidupan lebih baik, akan menghantarkan pada perasaan iri. Iri, bisa menjadi salah satu penyebab tindakan kriminal.

Itu sebabnya, ada beberapa manusia yang lebih memilih untuk tampil sederhana. Mereka tahu bahwa dengan menunjukkan seberapa besar aset yang dimiliki atau bergaya hidup glamor, justru akan menimbulkan banyak masalah. 


2 comments:

  1. Terkesan parno (paranoid) ya, tapi aku setuju sih, demi alasan keamanan dan kenyamanan. Kita ga pernah tahu bisa aja suatu saat nanti akan ada orang yg punya niat ga baik sm kita/keluarga kita.

    Beberapa bulan lalu aku nemu link ke video orang yg iseng sengaja ngerjain beberapa teman di FB nya yg suuukaa banget update status mereka lagi di mana, ngapain, sama siapa aja. Si orang iseng ini bisa tau semua informasi target2nya cuma dengan baca facebook mereka. Reaksi para targetnya tentu aja takut, marah krn merasa dikuntit sama orang yg tidak sopan cari tahu ttg kehidupan mereka :)) padahal mereka sendiri yg memampan informasi2 itu di ranah publik.

    Soal lihat FB orang bikin iri, itu udah ada penelitiannya. Lebih tepatnya sih, bikin sedih. Krn biasanya yg dipublish di FB itu adalah momen2 bahagia, jadi orang yg lihat biasanya akan berasumsi bahwa orang2 lain lebih bahagia dibandingkan dia. Tapi aku pernah punya temen FB yg hobi posting status galau, marah dan kecewa lho Mut.. kalau lihat punya dia bikin jd bersyukur, ga punya masalah seberat dia.. Hahaha

    ReplyDelete
    Replies
    1. Kalau ada yang galau atau narsis biasanya aku delete. Untuk menghindari lintasan pikiran tak penting dan tenaga yang terbuang percuma gara2 "ngerasani" mereka :))

      Delete