Tuesday, March 11, 2014

Earworm




Kalau aku bisa mendeskripsikan bagaimana rasanya jatuh cinta, maka aku akan memilih lagu ini. "Untuk Perempuan yang Sedang Dalam Pelukan", oleh Payung Teduh. Bukan liriknya yang mampu mengantarkan pemahaman tersebut, tapi lebih kepada melodinya. Seolah ada perasaan membius yang susah dijelaskan, tiap mendengarnya.

Aku terlambat untuk mengenal Payung Teduh. Tak semua lagunya cocok dengan selera pribadiku. Beberapa terasa terlalu melankolik. Tapi lagu ini punya tempat tersendiri di pikiran. Bahkan butuh diputar berkali-kali dalam satu waktu untuk menggaruk telinga agar terbebas dari "earworm" ini.

Lelaki bermata badam favoritku berceletuk, "Mungkin Payung Teduh berdzikir dahulu sebelum menciptakan lagu-lagu mereka. Sehingga bisa terasa sangat syahdu." Lalu, mungkin saja setelah postingan ini di-publish, saya akan sedikit menyesalinya. Mengapa? Karena mengungkapkan emosi melankolik, di tempat publik, termasuk aib. Setidaknya untuk akhir-akhir ini, menurut standard pribadi. Ah, terserahlah.

4 comments:

  1. Mutya....Wow ini namanya......sukses ya mutya...jikapun kita tak bisa bekerja sama sbg Team work tetep saling support yes....GBU. Irfan

    ReplyDelete
    Replies
    1. Yup, ini namanya earworm. Oh, happy belated b'day, Fan. Sukses buat karir kamu.

      Delete
  2. Aku juga mengalaminya, Mut.. Salut sama mereka yang blognya bisa konsisten bebas dari nuansa melankolis. Aghh! Mari kita dengarkan lagu ini bersama :D

    ReplyDelete
    Replies
    1. Mari terlarut dalam lagu Untuk Perempuan Yang Sedang Dalam Pelukan :). Publikasi bernuansa melankolik terkadang berpeluang membuka titik lemah. Tapi, kadang bagus juga untuk decoy. Hahahaha

      Delete