Friday, December 11, 2009

Same Old, Brand New Virus

Menarik nafas panjang dan menggeleng-gelengkan kepala nampaknya menjadi hal yang sering saya lakukan akhir-akhir ini. Betapa tidak? Hal itu dikarenakan keprihatinan saya terhadap suatu virus yang merebak di kalangan masyarakat.

Persebaran virus ini sangat mengkhawatirkan, karena sangat cepat, tidak mengenal latar belakang, gender, usia, maupun tempat. Virus ini bernama H1N4 *terinspirasi dari note teman…. Tapi (sepertinya) beda pembahasan….. Eh, saya belum bayar hak copyright nama nih. Hehehehe *

Virus jenis apakah ini?
Well, sejauh ini belum ada yang dapat mengidentifikasi virus ini secara ilmiah *sepanjang pengetahuan saya*. Hehehe…. Saya akan jelaskan berdasarkan pandangan orang yang awam dengan ‘penyakit’ masyarakat. Gejalanya utamanya yaitu suka menghina. Ya, MENGHINA! Menghina segala sesuatu, mulai dari menghina keadaan, orang lain --padahal belum tentu yang dihina lebih buruk dari yang menghina--, menghina diri sendiri dan yang paling parah sampai menghina Tuhan. Yah, bagaimana tidak menghina Tuhan kalau mereka memaki-maki ciptaan Tuhan --padahal ia tidak dapat menciptakan yang serupa dengan ciptaan Tuhan--, memaki takdir Tuhan --seperti saat ia mendapat sakit, cobaan, de el el--.

Orang-orang yang terjangkit virus ini sering bermuka masam, berpikiran negatif, serta terkadang merasa menjadi orang paling malang di dunia.

Sebenarnya, virus ini sudah ada dari jaman baheula, tapi anehnya orang yang sudah terkena virus ini, sering tidak menyadari bahwa ia adalah seorang pengidap. Ia menganggap bahwa memang ’virus’ itu adalah hal yang normal, dan sama sekali dianggap bukan penyakit.

Virus ini dapat menular, melalui perkataan yang diucapkan setiap hari, status FB yang sering memaki-maki, maupun gesture yang tidak mengenakkan hati. Calon pengidap yang paling potential adalah anak kecil yang masih polos, namun setiap hari disuguhi kelakuan pengidap yang semakin menjadi-jadi.

Menariknya, malah ada beberapa gelintir orang yang merasa bangga saat mengidap virus H1N4 ini. Berdasarkan pengamatan saya, mereka malah merasa semakin sering menghina sesuatu, maka semakin keren mereka. Agar menjadikan virus ini naik kelas, tak jarang mereka menggunakan bahasa Inggris saat menghina, padahal intinya sama saja. Hehehehe....

Seringkali, ketika mereka mengeluarkan jurusnya, maka akan tercipta suasana yang muram, telinga orang-orang di sekitar menjadi ’gatal’ dan terkadang membuat orang mengernyitkan dahi menjadi lipat sepuluh. Yang paling saya sayangkan adalah ketika virus itu menghinggapi orang-orang yang terpelajar dan berwajah rupawan. Lho, iya kan amat disayangkan, bagaimana para intelek itu berbicara layaknya orang-orang yang tak sempat mengecap manisnya pendidikan yang banyak tersebar di seantero negeri ini. Padahal, mereka (para intelek) merupakan orang-orang beruntung. Hanya sekitar 3,54 juta penduduk Indonesia yang dapat menikmati perguruan tinggi (pada tahun 2002). Apalagi, kalo ditambah wajah mereka yang rupawan, ya kan kasihan wajahnya enak dipandang, tapi ucapannya tidak enak didengar -- atau dilihat? Kan sekarang jamannya orang menuliskan pikiran mereka dalam bentuk status... hehehehe....--

Lalu, bagaimana penggobatannya? Hmmm..... Bentar yah, saya pikir dulu & buka-buka note orang buat cari inspirasi. Hihihihihi........

Oke, setelah dipikir-pikir, tampaknya ada beberapa hal yang dapat dilakukan, yaitu:


1. Think positive! Ya, dengan berpikir positif, maka kita akan lebih bersemangat menjalani kehidupan dan ujung-ujungnya diharapkan dapat mengurangi pikiran negatif yang menggiring pada kegiatan ’misuh-memisuh’ ini.

2. Jika belum dapat berpikir positif, maka sebaiknya perbanyak bergaul dengan orang-orang yang berpikiran & berlaku positif. Misalnya, datangi saja masjid, bergaullah dengan orang disana, asal ketika khatib sedang berbicara, kita tidak sibuk ngobrol ngalor ngidul dengan kawan-kawan baru tersebut.

3. Bersyukur, gan. Mirip sih ama poin pertama. Cuma teringat teman yang menulis, ‘Kalo dengan keadaan susah kita baru mengingat Allah, maka kemungkinan Allah akan sering menguji kita dengan keadaan susah itu. Makanya, perbanyak mengingat Allah saat keadaan lapang alias damai sentausa. Insya Allah, Allah akan memberikan kita banyak kenikmatan (keadaan lapang)’. Hmm, dimana nyambungnya sama bersyukur? Yah, bersyukur itu dapat dipancing dengan mengingat-ingat segala nikmat yang telah diberikan Allah kepada kita. 

Logikanya, orang kalo dikasih hadiah dari orang lain, biasanya menyebutkan terima kasihnya kepada sang pemberi kado tersebut. Nah, apalagi kalo kita diberi anugerah yang luar biasa yaitu kehidupan, masa tidak berterima kasih (bersyukur)? Hehehe....

4. Kabar baiknya, virus ini bisa tidak bersifat permanen. Yang perlu diperhatikan adalah lingkungan memegang peran yang penting dalam persebaran virus ini. Kalo lingkungannya sering dikotori oleh kata-kata tak pantas itu, maka virus H1N4 akan susah dihilangkan, kecuali orang yang sudah terjangkit berniat dengan segenap hati & tenaga.


”Tidaklah Allah menurunkan penyakit kecuali Dia turunkan utk penyakit itu obatnya.” {HR. Al- Bukhari)

Wallahu a’lam bish shawab

No comments:

Post a Comment