Wednesday, October 28, 2009

Alhamdulillah........

Alhamdulillahi Rabbal 'alamin....

Ya, hanya kata-kata itulah yang mampu saya ucapkan ketika saya ditahbiskan menjadi Sarjana Manajemen di Sabuga 24 Oktober 2009. Pada hari itu, saya telah menunaikan masa studi selama 3 tahun di Institut Teknologi Bandung.

Terlalu singkat rasanya waktu yang telah dilewati dalam kampus yang terletak di Jalan Ganesha 10, Bandung ini. Masih banyak asa yang belum terwujud, masih banyak cerita yang belum terangkai dengan sempurna, dan masih banyak orang yang belum saya kenal :))


Jika diingat-ingat, tiga tahun yang lalu, saya datang ke Bandung dengan semangat yang membara, tapi asa yang tak terlalu membumbung. Mengapa? Hahaha..... Jujur, ketika SMA, saya tidak pernah bermimpi bisa berkuliah di tempat yang indah ini. Terlalu jauh dari angan..... Ketika itu, saya sadar bahwa saya hanyalah seorang siswi dari SMA di Semarang yang tidak termasuk top ten. SMA saya adalah SMA swasta, yang jarang didengar orang dan bahkan hanya ada satu orang alumni *kalau saya tidak salah ingat, angkatan 2001* yang pernah berhasil kuliah di ITB.

Lalu, angin apa yang membawa saya ke tempat Bung Karno pernah menuntut ilmu? Hmmm.... Ada dua alasan:

  1. '...Allah tidak akan mengubah nasib suatu kaum, kecuali mereka berusaha.' (Q.S Ar Ra'd:11) .

Ya, ini adalah alasan yang paling kuat mengapa saya, yang tidak ada apa-apanya dibandingkan lulusan SMA di Jakarta, khususnya SMA 8, 78, 81 ataupun lulusan SMA 3, 4, 5 Semarang ini berani nekat untuk ikut USM ITB pada tahun 2006. Yang ada dipikiran saya ketika itu adalah,
"Oh, c'mon Mutya, paling enggak lo harus coba. Jangan buat malu dengan menyerah sebelum bertanding. Hasil itu Allah yang menentukan, kalau lo gak pernah coba, bakalan nyesel. Toh, kalau lo gagal USM ITB, bukan berarti dunia lo hancur kan? Kalo gagal, ya coba lagi. Anggep aja kalo lo gagal, lo kayak orang yang lagi jatuh di tengah jalan. Nah, masa orang mau terus jatuh ditengah jalan? Kan bikin orang lain terganggu dan orang yang cuma berdiam diri itu orang yang tolol karena gak pernah sampai ke tempat yang dituju. Hahaha..... Yang perlo lo pikirin itu gimana kalo lo lolos USM ITB"
Hahaha.... ternyata kata-kata itu masih menempel dengan baik di otak saya ini....... Waktu itu, yang saya siapkan adalah mental ketika cita-cita itu tidak tercapai, tapi saya lupa bagaimana mempersiapkan diri ketika mimpi itu menjadi kenyataan. Hahahaha.......

  1. Ingin membungkam mulut teman saya! Hahahaha..... ini kok berasa balas dendam yah. Jadi, suatu saat saya bertemu dengan teman SMP saya *beda SMA* ketika ada perayaan hmmmm...... apa yah, kalau tidak salah tentang pemuda di depan SMA 3. Ketika itu, saya memanggilnya dengan cukup keras dan berada persis disebelahnya. Namun, tidak sedikitpun ia memperlihatkan bahwa saya ada disana dan menyapanya dengan cukup jelas. Heeeeeeee....... What's going on? Jangan karena saya bersekolah di tempat yang tidak sebaik dirinya, lalu dia bisa bersikap demikian. Padahal, saya dan dia telah menghabiskan waktu selama setahun dalam kelas yang sama. But, thanks to him, tiap inget wajahnya, rasa lelah ketika belajar langsung hilang. Yah, supaya kalau ketemu dia lagi, dia bisa lebih menghargai orang lain dan jangan langsung underestimate dengan orang yang tak seberuntung dia.
Peristiwa ini juga mengingatkan saya agar tidak memandang orang lain yang tidak seberuntung saya, dengan pandangan yang rendah dan menghinakan.

Balik lagi ke Sabuga.

Aaaaaaaaaaaaaa......... Rasanya masih gak percaya, tiga tahun yang lalu, di tempat ini saya bertemu dengan teman-teman se-SBM waktu pendaftaran ulang pasca USM. Bahkan, masih jelas diingatan waktu pengembalian formulir USM bareng Dek Nana & Happy *tengkyuuuu banget udah nungguin sekitar 2 jam di siang bolong dan dengan perjalanan antara kebun binatang ke Sabuga dengan memakai sepatu yang tidak nyaman buat jalan jauh.... hehehehe*, masih inget juga USM di GKU Timur di lantai 4, bareng Ebel & Experina, masih inget waktu masuk ke gedung SBM yang super nyaman & dengan fasilitas yang wow, ampe buat terbengong-bengong *hahaha, lebay*.

Dan yang membuat rasa ketidakpercayaan-bahwa-ini-semua-nyata semakin lengkap adalah Allah memberi rizky kepada saya untuk lulus dengan predikat cum laude. Memang, untuk mendapatkan gelar cum laude di prodi saya tidak sesusah di prodi yang lain *begitulah hal yang saya dengar dari teman-teman saya di berbagai jurusan*, tapi paling tidak, ini di luar perkiraan saya karena ketika tingkat satu akhir, saya mengalami permasalahan kesehatan yang membuat IP saya waktu itu jatuh. Setelah IP saya jatuh ketika itu, saya sudah tidak memikirkan IPK lagi, yang penting jalani saja dengan sebaik mungkin.

Gelar ini, saya persembahkan buat semua orang yang telah membantu saya selama ini dengan sangat baik, terutama kepada kedua orang yang tak kenal lelah dalam mendoakan anak sulungnya ini dan juga kepada Nenek saya tercinta yang sudah sering saya repotkan dengan berbagai masalah.

Yang ada sekarang adalah, 'Apakah gelar itu dapat berpengaruh pada kehidupan saya paska kampus?' Hmmmm, rasanya tidak. Sudah sering kita dengar bahwa lulusan universitas ternama dengan gelar cum laude yang gagal dalam kehidupan paska kampus. Banyak dari mereka yang 'hanya' mendapat tempat yang tidak terlalu strategis di perusahaan, bahkan sebagian dari mereka menjadi pengangguran karena tidak mendapat pekerjaan setelah melamar kesana-kemari. Padahal, banyak dari teman kuliah mereka yang sering membolos dari perkuliahan dan ber-IPK jauh lebih rendah dari para cum lauder yang sukses dalam karir. Sungguh kenyataan yang pahit.

Pelajaran yang dapat saya petik dari fenomena tersebut adalah, bahwa terkadang hidup itu tidak seindah yang kita bayangkan. Terkadang, ada saja hal yang dapat membuat kita kufur dari nikmat Tuhan. Lulus dengan predikat cum laude memang menjadi impian buat banyak orang. Tapi, perlu diingat juga bahwa nasib orang itu berbeda-beda, tidak semua yang cum laude dalam perihal akademik akan menjadi cum laude juga dalam hal karir. Memang, nasib itu di tangan Tuhan, tapi bukan berarti kita hanya berdiam diri karena '...Allah tidak akan mengubah nasib suatu kaum, kecuali mereka berusaha.' (Q.S Ar Ra'd:11) .'

Salam sukses buat para sarjana baru. Ingat, rakyat menanti karya-karyamu!

1 comment:

  1. Seingat saya, saya tidak pernah merasa salah jurusan :D

    Tapi insya Allah ntar mampir ke website di atas. Makasih infonya :)

    ReplyDelete