Monday, December 30, 2013

Bersedia, Siap, Yak!

Akhir pekan lalu, saya menjalani tes pengambilan sabuk dari suatu aliran pencak silat. Jika ditanya dua tahun yang lalu, mungkin tak akan pernah terbayang bahwa saya akan berubah dari sekedar penikmat tontonan bela diri menjadi pelaku. Saya, yang dalam penghakiman diri sendiri maupun beberapa orang, memiliki tubuh yang rentan sakit dan klemar-klemer. Tak heran jika mereka kaget sekali mendengar saya sekarang berlatih pencak silat.

Acara dimulai dari jam 7 malam hingga jam 7 pagi. Tanpa tidur, bertentangan dengan apa yang kami pikir sebelumnya :)). Jadwalnya lumayan padat. Kami menjalani tes di tiga pos. Dua pos untuk pelatihan fisik dan satu untuk pelatihan mental. Istirahat untuk makan asupan karbohidrat, lalu dilanjut dengan jurit malam. Setelah jurit malam, kami harus mengambil sabuk di dalam kompleks makam. Tujuannya adalah untuk mengingat bahwa nantinya, kami akan jadi penghuni makam. Di samping itu, untuk mengalahkan ketakutan diri sendiri. Saat kami kira acara telah selesai, ternyata dilanjutkan dengan tes sambung.

Tuesday, November 26, 2013

Televisi di Ruang Keluarga Kita



Sebelum membaca lebih jauh, mari kita dengarkan lagu Naif yang berjudul Televisi.

"Aku ingin membeli tv 72 inchi. Untuk bisa aku nikmati. Bersama sanak famili"
Awal perkenalan saya dengan TV, di bawah usia tiga tahun. Saya tak tahu dengan pasti kapan. Tetapi, di sudut ingatan, masih tersisa iklan TVRI dengan taglinenya yang terkenal saat itu, " TVRI, menjalin kesatuan dan persaaatuuuaaan".

Berhubung track record saya adalah anak rumahan, kehidupan sehari-hari Mutya kecil dipenuhi dengan suguhan televisi. Meskipun kadang diselingi main "bongkar pasang" -'boneka yang terbuat dari kertas lalu kita yang menjadi sutradaranya-- atau menonton atraksi akrobatik yang dilakukan sering adik atau sekedar membaca buku. Tapi, sebagian besar interaksi saya dibatasi televisi. Main dengan tetangga? Hahaha, nyaris tak pernah. Karena TV, dulu, saya rasa cukup untuk menggantikan manusia nyata.

Saturday, November 9, 2013

Dzikir, Ceunah


Berlatar belakang sekolah Islam sewaktu TK & SMA, sedikit banyak mempengaruhi pola pikir saya tentang iman & agama. Dulu, rukun iman & rukun Islam hanyalah sebuah narasi. Narasi yang dihafalkan. 

Rukun Iman terdiri dari enam butir, yaitu:

  1. Iman kepada Allah SWT
  2. Iman kepada malaikat-malaikat
  3. Iman kepada Kitab-kitab
  4. Iman kepada Rasul-rasul
  5. Iman kepada hari kiamat
  6. Iman kepada qada & qadar

Sedangkan rukun Islam terdiri dari lima butir, yaitu:

  1. Mengucap dua kalimat syahadat
  2. Menunaikan shalat
  3. Menunaikan zakat
  4. Berpuasa di bukan Ramadhan
  5. Berhaji bagi yang mampu
Setelah sekian lama saya hidup dalam lingkungan keluarga yang kebetulan muslim, saya baru sadar. Bahwasanya, sejak awal telah ada dikotomi antara iman & agama. Agama (Islam), sebagaimana terlihat dalam rukun Islam, membutuhkan adanya ritual. Serta dibutuhkan adanya pengakuan dan terlihat oleh orang lain. Sedangkan iman, bisa saja tak dinampakkan. Sesuatu yang bersifat personal.

Akar kata syahadat syīn hā dāl (ش ه د) dalam corpus quran, disebut 160 kali dalam Al Qur'an. Diantara turunan katanya dapat berarti to testify, to bear/make/call witness, testimony, evidence, the seen, martyr, present. Dari kesemuanya, saya mengambil kesimpulan bahwa ketika seseorang disebut bersyahadat, pada hakikatnya ia mengetahui alasan mengapa ia menyebut Tuhan adalah Tuhan, dan paham mengapa mengikuti ajaran Muhammad. Seharusnya ia telah melakukan percobaan tentang kebenaran yang ada dalam dua kalimat syahadat. Seharusnya.....

Mengapa saya mengulangi kata seharusnya pada kalimat di atas? Karena saya pun belum menemukan jawaban kebenaran yang terletak pada dua kalimat syahadat. Terutama pada kalimat terakhir. Saya tak tahu, mengapa di antara sekian banyak manusia, sekian banyak rasul, cuma Muhammad yang diperlakukan istimewa. Kalau Isra Mi'raj dianggap keistimewaan Nabi Muhammad, lalu bagaimana dengan kisah Nabi Idris yang memiliki kemiripan narasi pada Book of Enoch?

Monday, June 17, 2013

Seriously, What's Wrong with Women?



Saya wanita. Secara fisik dan gender, saya wanita. No, I'm not a lesbian. Saya juga bukan pengusung masalah kesetaraan gender. Tapi, saya merasa ada yang salah dengan wanita. Well, tak semua wanita. Tapi kebanyakan dari wanita.

Coba perhatikan topik obrolan para wanita selama diskusi. Ada satu benang merah yang bisa ditarik. Kebanyakan dari kami, gemar membicarakan diri sendiri maupun orang terdekat. Baik itu dilakukan secara terbuka oleh publik, maupun di ruang privat.

Ketika bertemu dengan kawan lama atau baru berkenalan, kebanyakan wanita tak segan bertanya hal pribadi, seperti status pernikahan. Status pernikahan tampaknya sangat diagung-agungkan dalam komunitas ini. Seolah yang sudah menikah dengan yang masih melajang, ada di kelas yang berbeda.

Yang membuat saya prihatin adalah, mengapa kami hanya berputar-putar saja pada topik pribadi? Seolah porsi untuk membicarakan hal diluar kami, itu sangat sedikit dan tersisihkan. Kalaupun sedang melakukan diskusi, hampir selalu berbelok menjadi curhat. Dalam ajang curhat itu tampaknya pembicara hanya ingin untuk didengar. Bukan untuk diberikan solusi. Membingungkan, bukan?

Monday, June 3, 2013

Guilty Pleasure: That Winter, The Wind Blows


Saya termasuk bukan penggemar berat drama romantis. Apalagi yang banyak adegan berderai air mata atau tingkah lebay antara lelaki dan perempuan --terutama puisi, bweh--. Bagi saya, film dengan narasi yang dekat dengan fakta dan sedikit --hanya sedikit-- bumbu romantik itu yang menarik.

Akan tetapi, entah kenapa akhir-akhir ini mata saya tertuju pada "That Winter, The Wind Blows". Sebuah drama Korea. Layaknya film drama, tentu saja terkadang ada adegan yang lebay. You may call it is my guilty pleasure.

Sosok Oh Soo yang diperankan Jo In Sung --begitukah penulisan latinnya?-- ini membuat mata malas berkedip. Bukan karena kegantengannya. Standard ganteng saya bukan yang seperti itu. Justru karena wajahnya terlihat suram, sering mengerutkan dahi dan serius itu yang membuat tampak menarik. Umurnya, sejauh yang saya cari via googling, 32 tahun. Pria kepala tiga itu, IMO berada pada kondisi sedang menarik-menariknya. Mereka sudah mulai melihat realita dari impian remaja. Sudah mulai terbentur masalah yang lebih serius. Biasanya jenjang karir di usia ini sudah mulai kelihatan. Secara penampilan pun, rata-rata terlihat matang dan belum memiliki uban.

Saturday, April 27, 2013

Atas Nama Sejarah


Dipimpin oleh dinasti Kim sebagai puncak pimpinan, Korea Utara merupakan negara yang unik. Guy Delisle, dalam komiknya berjudul "Pyongyang: A Journey in North Korea", menggambarkan betapa keluarga Kim sangat pandai memelihara mitos.

Mitos, oleh penguasa merupakan alat yang sudah sejak lama sengaja dipelihara untuk melegitimasi kekuasaan mereka atas rakyat. Semakin pandai rakyat, maka ia akan berpeluang lebih besar untuk menjadi penghalang bagi kekuasaan yang telah ada. Salah satu mitos yang masih saja dinikmati oleh rakyat terutama wanita adalah kisah tentang Kartini. Bung @zenrs telah menuliskan lakon Kartini di setiap zaman, bergantung kepentingannya.

Secara evolusi, manusia memiliki kecenderungan untuk mempercayai takhayul ataupun mitos. Penelitian Kevin R. Foster & Hanna Kokko, menunjukkan bahwa, proses seleksi alam telah 'mengijinkan' manusia untuk memercayai ketakutannya. Lalu menimbulkan takhayul ketika tak berupaya untuk membuktikan sendiri teori mereka. Pada manusia, penilaian kausalitas dan responnya terkait pada kompleksitas kemampuan bernalar dan penyebaran budaya.

Tuesday, March 19, 2013

Mempertanyakan Keimanan

"Membaca atau mengucap syahadat sungguh berbeda dari mengalami syahadat. Syahadat bukanlah bacaan & pengalaman syahadat bukan sekadar pembacaan" [Candra Malik]
Menyatakan bentuk keimanan terhadap Deity dan menerjemahkannya dalam tindakan non verbal adalah dua hal yang berbeda. Syahadat, begitu muslim mengenalnya, terdiri dari dua pernyataan. Bagian pertama menyatakan tiada tuhan selain Tuhan. Bagian kedua menyatakan pembenaran bahwa ada manusia bernama Muhammad, merupakan utusan Tuhan.

Selama beberapa tahun terakhir, syahadat bukanlah hal yang sederhana bagi saya. Ini merupakan sesuatu yang rumit. Melibatkan pembuktian kebenaran kedua pernyataan tersebut, yang sayangnya tak semudah diucapkan. Mengingatkan pada pelajaran Introduction to Mathematical Thinking dari Prof Keith Devlin, bahwa pernyataan tersebut bersifat shahih dengan syarat. Pernyataan dengan kata sambung DAN bernilai shahih jika keduanya benar. CMIIW

Dalam sehari, seorang muslim diharapkan setidaknya mengucapkan syahadat sebanyak 10 kali, di dalam shalat wajib. Menegakkan shalat, begitu katanya. Tafsiran manusia, khususnya muslim, terhadap penegakkan shalat pun bisa jadi beragam. Jika shalat hanyalah ritual, maka syahadat tak ubahnya ucapan sehari-hari tanpa makna.

Saya meyakini ada kekuatan besar yang mengatur alam semesta ini dengan sempurna. Kebanyakan manusia melabelnya dengan Tuhan. Lalu, sejauh mana usaha manusia dalam mengenal Tuhan dan 'menjadikannya' Tuhan? Beberapa orang dengan berani mengklaim bahwa Tuhan menginginkan begini dan begitu. Bahwa tafsiran mereka akan Tuhan adalah yang paling benar dan terbaik. Bagaimana bisa mengklaim kebenaran jika mereka tidak mengkonfirmasikannya langsung terhadap Tuhan?

Setiap homo sapiens memiliki 'Tuhan'. Bergantung pada definisi dan konsep yang ia miliki. Atheis tak punya 'Tuhan'? Bisa jadi mereka menuhankan pemikiran mereka sendiri. Jadi, ketika membaca tulisan 'Tuhan' tafsirannya bisa sangat beragam.

Ketika seseorang mengakui adanya kekuatan Maha Besar bernama Tuhan, apakah otomatis ia menuhankan-Nya? Menuhankan dan menyekutukan Tuhan itu batasnya sangat tipis. Bisa jadi tanpa sadar kita menuhankan tafsiran kita sendiri akan Tuhan dan ayat. Kebanyakan manusia jaman modern seolah tak bisa hidup tanpa uang. Sehingga seolah seluruh hidupnya akan ditentukan oleh benda bernama uang--Padahal sistem uang merupakan sistem yang dibuat oleh manusia sendiri.-- Berapa banyak manusia yang menjalan ritual ibadah tapi masih memiliki kesedihan akan masa lalu dan kekhawatiran akan masa depan? Sehingga seolah tak percaya bahwa ada Tuhan yang akan memberikan yang terbaik --tergantung tafsiranmu akan solusi terbaik juga :) --

Wednesday, December 19, 2012

Braggin' Yerself, Kiddo?


Layaknya orkestra, sebuah perusahaan yang baik terdiri dari individual dengan kemampuan yang mumpuni pada bidangnya serta membutuhkan kerjasama agar menghasilkan output yang baik. Setiap individu, mempunyai perannya masing-masing dalam menentukan arah perusahaan. Ada peranan yang mudah digantikan, dan ada juga yang tidak. Tergantung dari sistem yang diciptakan. 

Seorang pimpinan perusahaan yang baik dan bijak, tahu bahwa keberhasilan perusahaan tidak bisa dikaitkan hanya dengan individu tertentu. Seberapapun baik kemampuannya, pemimpin bukanlah apa-apa jika tak mendapatkan rekan kerja --ya, saya lebih suka menyebut karyawan sebagai rekan kerja-- yang mumpuni. Kalimat seperti 'Perusahaan ini bisa maju dan berkembang karena jasa saya' dan sebagainya itu terdengar menggelitik. Setidaknya telinga saya yang tergelitik karena betapa sering akhir-akhir ini saya mendengar hal semacam itu. 

Saturday, November 24, 2012

Identitas

"Eksistensi dan identitas manusia tak harus dipajang di socmed ataupun internet.... Tak perlu lah dunia tahu siapa dirimu, apa tanggung jawabmu, apa jabatanmu. Biarkan itu semua terjawab oleh tindakan dan karya." [kutipan bebas dari Ayah]

"Manusia bisa memiliki lebih dari satu identitas. Tak perlulah mengeluarkan semua yang kita pikirkan ataupun menunjukkan semua kemampuan kita jika tak tahu berhadapan dengan siapa." [Dearest]

Ketika terlahir di dunia, manusia telah memiliki identitas, setidaknya nama dan asal muasalnya. Identitas dapat berkembang seiring waktu yang tercipta oleh lingkungan sekitar serta pengalaman. Bisa jadi, dalam keberjalanannya, orang tua menjadi kabur akan identitas anak mereka.

Monday, August 13, 2012

Lessons Learned from Miyuki Inoue & Michiyo Inoue

Merasa selalu ada kekurangan dalam fisik? Jangan. Kita perlu belajar pada sepasang anak beranak dari Jepang ini, Michiyo & Miyuki Inoue. Miyuki terlahir 500 gram, tanpa seorang ayah. Tak hanya itu, untuk menjamin keselamatan dirinya, ia menjadi buta akibat intensitas oksigen yang tinggi dalam inkubator. 

Meskipun begitu, Miyuki mampu bertahan hidup. Bahkan wanita yang terlahir 21 Agustus 1984 ini memiliki ketrampilan & kemauan yang mungkin tidak dimiliki mereka yang terlahir normal. Ia mampu menjuarai kompetisi menulis; menaiki sepeda & skuter; melakukan berbagai macam olahraga (senam lantai, berenang, trampolin, roller blade, voli untuk tuna netra, ground golf & maraton) beragam kesenian (menggambar, mematung, kolase kertas, memaku & memalu) serta mampu mengurus pekerjaan rumah. 

Lalu, faktor apa yang membuat Miyuki bisa melakukan itu? IMO, didikan dari Ibunya. Michiyo berasal dari keluarga yang berantakan. Diabaikan Ibu kandungnya sendiri, tak mengenal kasih sayang Ayah, serta nyaris dilecehkan kekasih Ibunya. Semua itu menjadikan Michiyo tumbuh menjadi perempuan yang tangguh. Ia tak mengenal sosok Ibu, sehingga Michiyo lebih pantas jika disebut berperan sebagai ayah bagi Miyuki. 

Jika pada umumnya Ibu bersifat lemah lembut, Michiyo lebih tega dalam mendidik anak. Karena ketetapan hatinya membiarkan Miyuki merasakan akibat dari setiap keinginan yang terlontar, membuat Miyuki berkembang menjadi wanita yang sama tegarnya. Miyuki menjadi wanita yang dewasa serta mandiri. Ia juga mengajari Miyuki tentang harga diri. Akan tetapi, setega-teganya Ibu, tetap saja Michiyo menangis ketika melihat Miyuki berdarah saat berlatih sepeda. Atau setidaknya memiliki dorongan --yang amat sangat ia tahan-- untuk menolong anaknya. 

Coba perhatikan juga nilai etos kerja yang tinggi yang diwariskan dari Michiyo terhadap Miyuki. Meskipun cacat secara fisik, bukan menjadi alasan bagi Miyuki untuk bergantung secara finansial kepada Ibunya. Ia ingin menjadi perawat panti jompo. Lalu, mau beralasan apalagi bagi orang yang berfisik normal untuk tidak mandiri?

PS: gambar diambil dari sini

Sunday, August 5, 2012

Tumis Gurame

Bahan:

  • 1 ekor ikan gurame (800-700 gr), bersihkan, dan sayat sedikit daging di bagian sisi badannya
  • 2 sdm air jeruk nipis
  • Garam halus secukupnya
  • Tepung maizena secukupnya, untuk melumuri ikan
  • Minyak untuk menumis dan menggoreng
Untuk tumisan:
  • 3 siung bawang putih, iris halus
  • 5 butir bawang merah, iris halus
  • 5 buah cabai merah gemuk, buang bijinya, iris serong. [kalau nggak ada, ganti saja dengan cabai merah keriting. Bijinya nggak usah dibuang, malah lebih enak]
  • 5 buah cabai hijau gemuk, buang bijinya, iris serong  [Bijinya nggak usah dibuang, malah lebih enak]
  • 1 ruas ibu jari lengkuas, iris tipis
  • 3 lembar daun salam [saya hanya menggunakan 1 lembar]
  • 2 sdm saus tomat
  • 2 batang daun bawang, iris tipis serong
  • garam & gula pasir secukupnya
  • [saya menambahkan 3/4 sdt saus tiram untuk resep ini]
  • Air secukupnya
Cara membuat:

Tuesday, July 31, 2012

Lessons Learned From Al Baqarah 104-114 (Taken From Al Mishbah)



Ayat 104:

"Hai orang-orang yang beriman, jangan kamu katakan 'Raa'inaa', tetapi katakanlah : 'Unzhurnaa', dan dengarlah. Bagi orang-orang kafir siksaan yang pedih."

Ayat ini menasehati umat muslim untuk membuktikan keimanan antara lain dengan mengatakan unzhurnaa daripada raa'inaa, kemudian menjalankan tuntunan ini maupun tuntunan lainnya. Kedua kalimat tersebut bermakna sama dalam bahasa Arab yaitu "perhatikanlah keadaan atau kemampuan kami". Kata serupa ra'inaa dalam bahasa Ibrani bermakna makian.

Ayat 105:

"Orang-orang kafir dari Ahl al Kitaab dan orang-orang musyrik tidak senang dengan diturunkannya sedikit kebaikan (pun) kepada kamu dari Tuhan kamu. Allah mengkhususkan siapa yang dikehendaki-Nya (untuk diberi) rahmat-Nya dan Allah Pemilik karunia yang agung."

Ayat ini mengingatkan kaum muslimin untuk tidak memercayai persahabatan SEBAGIAN Ahl al-Kitaab yang iri dan dengki atas kebaikan yang diturunkan Allah kepada kaum muslimin.

Makna "sedikit pun" dipahami dari kata min dan tanwin pada kata min khairin. Kebaikan yang dimaksud meliputi kebaikan ruhani maupun materi.

Ayat 106-107:

"Kami tidak menasakhkan satu ayat pun, atau Kami menangguhkan (hukum) nya (kecuali) Kami datangkan yang lebih baik darinya atau yang sebanding dengannya. Tiadakah engkau mengetahui bahwa sesungguhnya Allah Mahakuasa atas segala sesuatu? Tiadakah engkau mengetahui bahwa kerajaan langut dan bumi adalah milik Allah? Dan tiada bagimu selain Allah satu pelindung maupun satu penolong."

Makna ayat ini dari segi tinjauan hukum menjadi perbedaan pendapat di kalangan ulama. Secara garis besar, ada 4 kelompok pemahaman, yaitu:

  1. Allah tidak membatalkan satu hukum yang dikandung oleh satu ayat, kecuali Ia mendatangkan ayat lain yang mengandung hukum lain yang lebih baik atau serupa. Penganut paham ini beranggapan bahwa ada ayat-ayat dalam al Qur'an yang tidak berlaku lagi hukumnya, seperti hukum meminum khamr yang tadinya boleh saja diminum (baca an Nahl ayat 67 & al Baqarah ayat 219), kemudian terlarang bila telah mendekat waktu shalat (baca an-Nisaa' ayat 43), kemudian terlarang sama sekali (baca al-Maa'idah ayat 90). 
  2. Allah tidak membatalkan hukum dalam ayat-ayat al Qur'an, melainkan hukum yang diterapkan dari ayat tersebut berubah sesuai dengan perubahan kondisi. Ketetapan hukum terdahulu tetap berlaku jika ada seseorang atau masyarakat yang kondisinya sama atau serupa dengan masyarakat yang pada mulanya berlaku terhadapnya hukum tersebut. Sedangkan, hukum yang baru juga berlaku bagi masyarakat lain yang keadaannya telah berkembang sehingga tidak sesuai lagi baginya hukum yang lama itu.
  3. Ada juga yang memahami kata aayah dalam arti mukjizat. Sehingga pengertiannya menjadi: Kami tidak membatalkan satu mukjizat, atau menggantinya dengan mukjizat yang lain, kecuali yang datang kemudian lebih baik atau serupa dengan mukjizat yang lalu. 
  4. Ada juga yang berpendapat bahwa kata nunsihaa berarti menjadikan manusia lupa. Pendapat ini tidak berarti ada ayat-ayat al Qur'an yang dilupakan Nabi saw. sehingga kini tidak tercatat dalam al-Qur'an, tetapi sesekali beliau terlupa namun tidak seterusnya. 
Ayat ini memiliki keterkaitan dengan ayat 104 mengenai pembatalan, penggantian, pengubahan, penyalinan dll (arti naskh). 

Thursday, July 26, 2012

Bubur Candil Warna

Candil:
300 gr tepung ketan
1/2 sdt air kapur sirih
1/4 sdt garam
150 ml air hangat (saya menambahkannya menjadi 225 ml air hangat)
1 tetes pewarna merah
1 tetes pewarna kuning
1 tetes pewarna hijau

* Supaya hemat, saya hanya mengenakan 2 pewarna, untuk 3 bagian candil. 1 bagian u/ warna merah; 1 bagian warna hijau; dan 1 bagian tanpa pewarna.

Kuah Nangka:
500 ml santan
150 gr gula pasir (saya menguranginya hingga 100 gr, itu saja masih terasa terlalu manis)
2 lbr daun pandan
3 sdm tepung beras, cairkan dengan sedikit air
100 gr nangka, potong bentuk dadu

Sunday, July 22, 2012

Egg Tofu Saus Tiram

Bahan:

30 gr tepung maizena
1/4 sdt garam (saya tambahkan menjadi 1/2 sdt)
1/4 sdt merica bubuk (saya tambahkan menjadi 1/2 sdt)
1 bh egg tofu, potong bulat 2 cm
minyak goreng secukupnya
1 bh bawang bombai, potong-potong
2 siung bawang putih, cincang
1cm jahe, memarkan
200 gr udang, kupas, sisakan ekor (saya mengurangi takarannya menjadi 100 gr)
2 lbr jamur kuping, rendam,potong-potong (saya tambahkan menjadi 4 lbr)
75 gr kubis mini, potong jadi 4 (saya menggantinya dengan 100 gr ceciwis)
2 sdm saus tiram
1 sdt kecap ikan
1 sdm saus tomat

Larutan untuk mencelup tofu:
1/4 sdt garam
1/4 sdt merica bubuk
2 sdt tepung maizena, larutkan dengan 2 sdm air

Sunday, July 8, 2012

Romantic Redefenition



Kata 'romantic' dalam kamus bahasa Inggris kerap diasosiasikan dengan fiksi atau angan-angan. Selama ini, saya cenderung malas dengan hal yang romantis. Akan tetapi, dia mampu membuat saya me-redefinisi-kan romantis.

Romantis dalam pandangan saya adalah dimana kami bisa melakukan hal yang 'membumi' dan non fiksi, baik secara berdua maupun melibatkan orang-orang di sekitar kami. Saya sangat menikmati saat kami berdua berdiskusi tentang banyak hal, mulai dari sejarah; budaya; agama; politik. Mulai dari ekonomi makro hingga mikro. Mulai dari hal menyenangkan seperti film & kartun hingga militer. Mulai dari kesehatan hingga game theory. Mulai dari sains hingga ilmu sosial. Mulai dari filosofi hingga seni. Mulai dari ide hingga Standard Operation Procedure (SOP). Terutama, ketika pembicaraan tersebut bukan sekedar kata-kata yang bergantung di langit. Meskipun, definisi romantis antara saya dan ia kerap berbeda :))

Ada empat hal paling romantis yang pernah ia lakukan. Namun, hal teromantis yang membuatku jatuh hati berulang kali adalah ketika ia membicarakan tentang Tuhan & ke-Tuhan-an lalu mengaplikasikannya. Bukan terletak pada atribut, bukan juga pada ritual. Dialah mualaf yang mampu membuatku jatuh cinta berulang kali pada Islam. Maka, segala puji bagi Tuhan semesta alam yang menciptakan manusia beserta akal dan nurani untuk mendefinisikan sesuatu.

Note: Lagu diambil dari Youtube. Bagian depannya di-skip aja, karena mereka nggak langsung nyanyi