Wednesday, June 13, 2012

Resep: Ayam Kecap a la Hongkong

Bahan:

  • 1 ekor ayam kampung
  • 2 ruas (@4 cm) jahe, memarkan
  • 200 ml kecap asin
  • 60 ml mushroom soy sauce
  • 50 gr gula batu
  • 2 buah bunga lawang (pekak)
  • 2 siung bawang putih, tidak dikupas kulitnya
  • 2 buah cabai merah
  • 1500 ml air
Cara Membuat:
  1. Cuci ayam sampai bersih
  2. Masukkan semua bahan lainnya dalam panci. Masukkan ayam, masak selama kurang lebih 15 menit. Matikan apinya. Tutup panci selama kurang lebih 30 menit.
  3. Angkat ayam, potong-potong, susun dalam piring saji. 
Tips:
  • Ayam kampung bisa diganti dengan ayam pejantan. 
  • Agar bumbu lebih meresap & masak lebih cepat, gunakan panci presto.
  • Air sisa rebusan ayam ini bisa digunakan untuk memasak semur telur & tahu.
Selamat mencoba!

Sumber: Winata, Mary. 2007. "Chinese Food: Favorit Ala Resto". PT Gramedia Pustaka Umum. 

Sunday, May 27, 2012

Batik Pekalongan di Mataku

Batik "Kaharsayan Giri"
Sejarah Batik Pekalongan

Batik, jika diamati, bukan hanya selembar kain biasa. Ia telah menyimpan coretan sejarah serta makna dalam goresan yang tertera di atasnya. Setiap peristiwa, peralihan kekuasaan serta perubahan politik, sosial & agama pun tak luput menjadi faktor yang mempengaruhi perkembangan batik. Secara umum, terdapat tiga periode sejarah batik Pekalongan.

Sejarah mencatatkan bahwa batik telah berkembang di Pekalongan pada abad VII-XI Masehi, di bawah kekuasaan Wangsa Syailendra & Sanjaya (Kerajaan Mataram Kuno, Airlangga & Singosari). Kedua Wangsa tersebut beragama Hindu-Budha beraliran Syiwa Tantra & Animisme, maka tak heran ragam hias batik pada masa itu dipengaruhi oleh seni arca, seni ukir & seni percandian yang berkembang di Jawa Tengah & Jawa Timur. Ini merupakan periode pertama. 

Pada periode pertama, contoh motif yang dihasilkan adalah tumpal, ukel, garis lingkaran, ceplokan, padma sabha, gringsing, garis gelombang yang dikenal sebagai motif pilin, meander, swastika, dsb. Bahan pewarna batik Pekalongan Kuno berasal dari alam dengan warna dasar yang didominasi putih & biru kecuali pada batik Jelamprang yang berwarna cerah. Batik pada awal masa ini diproduksi dengan sistem celup ikat kemudian mengalami kemajuan menggunakan teknik lukis atau colet. Fungsi batik lebih kepada alat penunjang peribadatan, medium kosmis, yang menghubungkan antara dua dunia. Dengan ini, batik memperkuat konsep Manunggaling Kawula Gusti

Wednesday, May 16, 2012

How to Survive in a Masculine World (Tips For Women)

Tulisan ini mungkin bisa berguna bagi orang yang dibesarkan dalam budaya feminim, terutama wanita (baca note saya di FB terkait ini) untuk beradaptasi dalam dunia maskulin. Contohnya bisnis. Satu catatan yang dipegang adalah, tidak semua wanita menganut nilai feminim dan tidak semua pria menganut nilai maskulin.


  1. Stop curhat. Dalam dunia maskulin, selalu ada kepentingan. Curhat adalah sesuatu yang 'salah' dalam dunia maskulin kecuali kamu punya kepentingan seperti mendapatkan solusi. Kalau kamu mencari perhatian dengan melakukan curhat, itu adalah BIG NO NO. Kelemahan yang kamu tunjukkan pada lingkungan penganut budaya maskulin akan membuat kamu gampang ditindas dan dipermainkan. 
  2. Show me your power! Hampir sama seperti yang telah dikemukakan di atas. Jangan memperlihatkan ketidakmampuan. Kalau mau sedih atau nangis, cari tempat sepi. Jangan merajuk di tempat umum. Perlihatkan kemampuan yang kamu miliki atau setidaknya itikad baik untuk menyelesaikan masalah dibandingkan hanya menggerutu sepanjang waktu. Terkadang, kamu akan menemui orang - orang yang berusaha mengukur kemampuan kamu dalam dunia maskulin, dengan berbagai cara. 

Friday, April 20, 2012

Selera Pasar



Mengubah sudut pandang yang tadinya hanya sebagai konsumen menjadi pedagang maupun produsen, memerlukan usaha & energi yang besar. Saat menjadi pedagang, urusannya adalah menjual barang yang laku di pasaran meskipun tak sesuai dengan selera pribadi. Yang penting laku, asal duit berputar lalu berkembang.

Beda lagi ketika menjadi produsen. Ada unsur ego yang dimasukkan saat memproduksi barang agar diterima oleh pasar. Selera gue gini, kalau nggak mau ya cari yang lain. Kualitas produk pun lebih diperhatikan, meskipun tak semua produsen setuju terhadap hal ini, karena setiap produk pasti ada pasarnya.

Saturday, March 10, 2012

Survival of The Fittest

Pernah, suatu hari, saya terbangun dengan pertanyaan:

'Apa yang akan saya lakukan ketika orang-orang terdekat saya tak ada lagi di dunia fana ini? Bisakah saya bertahan hidup? Apa yang saya miliki untuk bertahan hidup?'

Pemikiran tersebut tak hanya datang sekali. Lalu muncullah sebuah tekad untuk memperbanyak kemampuan diri dengan tujuan bertahan hidup. Sejak beberapa bulan yang lalu, saya mulai mempelajari beberapa hal dan mencoba mempraktekkannya. Cuma untuk bertahan hidup.

Tapi, ketika orang-orang di sekitar mempertanyakan alasannya, mereka tak dapat menerima ide bahwa saya melakukan itu untuk bertahan hidup, terutama jika mereka suatu saat dipanggil oleh Pemilik nyawa. Sebagian dari mereka berpikir bahwa itu adalah suatu ide yang kasar, terlalu jauh.

Hm, lalu apa definisi dari kasar? Jauh? Bukankah kematian itu hal yang terdekat bagi setiap yang bernyawa? Bukankah warisan terbaik yang bisa ditinggalkan manusia adalah ilmu? Menurut mereka, itu bukan cara seorang Jawa dalam menjawab pertanyaan, terlalu kasar. Err, Jawa bagian mana? Bukankah kebudayaan Jawa bagian pedalaman dan pesisir itu berbeda?

'Perkataan tadi bisa kamu terapkan kalau kamu hidup di negara Barat! Seharusnya kamu jawab saja untuk bisa mendapatkan uang dari ketrampilan tersebut', begitu tanggapan salah satu dari mereka.

'Kenapa kamu mikirnya jelek begitu? Hati-hati dengan omongan, bisa jadi doa' ujar yang lain.

Hm, saya tidak pernah mendoakan yang terburuk bagi orang-orang terdekat saya. Saya hanya ingin mempersiapkan diri. Apa yang salah dengan mempersiapkan diri dengan segala kemungkinan? Toh orang Aceh juga tak pernah berharap bahwa banyak keluarganya meninggal ketika terjadi tsunami kan? Tapi setelah tsunami usai, mereka harus bertahan hidup. Begitupun dengan Bangsa Jepang setelah gempa besar 2011....

Hm, saya hanya berusaha mengambil setiap nilai dari berbagai kebudayaan yang menurut saya sesuai dengan konsep pribadi saya. Tak masalah apakah itu dari Barat atau Timur. Terkait motif ekonomi, IMO, hanya salah satu alat untuk bertahan hidup.

Saya tak berniat untuk melukai mereka dengan jawaban kebutuhan saya untuk bertahan hidup tadi. Tapi entah kenapa beberapa orang sangat tersinggung.  Rupanya, dalam suatu komunitas yang dihubungkan dalam darah sekali pun, tidak menjamin seluruh anggotanya memiliki konsep nilai yang sama. Tapi saya percaya, masih ada individu-individu di luar sana yang memiliki irisan pemikiran & nilai, meskipun tak pernah bertatap muka sebelumnya. Dan, nilai itu bisa saja berubah & berkembang, sesuai dengan keadaan.

Friday, February 24, 2012

Memaknai Bahasa



Bahasa merupakan tools yang digunakan manusia untuk berkomunikasi dengan manusia yang lain. Ia dapat menjadi alat propaganda/alat penyebar ide, alat pengendali kesadaran maupun alam bawah sadar (hipnotis), maupun sebagai alat identitas. Cara paling mudah untuk mengetahui dengan siapa kita berhadapan adalah dengan membaca tulisannya dan mengamati tema besar dari pemikirannya. Lalu cross check dengan kenyataan di lapangan.

Wanita pada umumnya menggunakan bahasa tersembunyi yang terkadang bisa disalahartikan oleh lawan bicaranya.

Dampak kesalahan penafsiran bahasa bisa beragam, mulai dari kebingungan; kehilangan pekerjaan; kehilangan transaksi/uang; hingga kehilangan nyawa.  Maka, berhati-hatilah ketika berbahasa :)

Tuesday, February 7, 2012

Show Me The Right Way

Sebarapa sering kamu merasa seperti layangan putus yang tak tentu arah? Mungkin, salah satu solusinya adalah memanjatkan & memahami makna dari Ihdinashshiraathal mustaqiim.  Lalu, apa makna dari QS Al Faatihah ayat 6 ini?

Kata ihdinaa bermakna dua yaitu:
1. Tampil ke depan memberi petunjuk
2. Menyampaikan dengan lemah lembut

Petunjuk Allah bermacam-macam sesuai dengan peranan yang diharapkan makhluk. Terdapat tiga tingkat petunjuk, yaitu:

1. Naluri, yang terbatas pada penciptaan dorongan untuk mencari hal-hal yang dibutuhkan.
2. Pancaindra
3. Akal.

Meskipun petunjuk akal sangat penting dan berharga, ia hanya berfungsi dalam batas-batas tertentu dan tidak mampu menuntun manusia keluar dari jangkauan alam fisika. Bidang operasinya adalah bidang alam nyata dan dalam bidang ini pun tidak jarang manusia terpedaya oleh kesimpulan-kesimpulan akal sehingga akal tidak merupakan jaminan menyangkut seluruh kebenaran yang didambakan.

"Logika adalah suatu ilmu yang dirumuskan oleh Aristoteles yang bertujuan memelihara perumusnya, apalagi orang lain, dari kesalahan-kesalahan.", Syaikh 'Abdul Haalim Mahmud.

Karena itu, manusia memerlukan petunjuk yang melebihi petunjuk akal, sekaligus meluruskan kekeliruannya dalam bidang-bidang tertentu. Petunjuk tersebut adalah hidayah agama.

Sementara ulama membagi petunjuk agama menjadi dua, yaitu:
1. Petunjuk menuju kebahagiaan duniawi dan ukhrawi. Baca Asy Syuuraa ayat 52 & Fushshilat ayat 17.
2. Petunjuk serta kemampuan untuk melaksanakan isi petunjuk. Ini tidak dapat dilakukan kecuali oleh Allah swt. Baca Al Qashash ayat 56

Thaahir Ibn 'Aasyuur membagi hidayah dalam empat tingkatan, yaitu:
1. Al quwaa al muharrikah wa al mudrikah atau potensi penggerak dan tahu. Potensi ini hanya terbatas pada manusia yang memerolehnya melalui pengetahuan yang bersifat indriawi.
2. Petunjuk yang berkaitan dengan dalil-dalil yang dapat membedakan antara yang haq dan batil. Petunjuk ini adalah hidayah pengetahuan teoretis.
3. Hidayah yang tidak dapat dijangkau oleh analisis dan aneka argumentasi akliah atau yang bila diusahakan akan sangat memberatkan manusia. Hidayah ini dianugerahkan Allah swt. dengan mengutus para rasul-Nya serta menurunkan kitab-kitab-Nya dan inilah yang diisyaratkan oleh QS. al Anbiyaa' ayat 73
4. Hidayah yang mengentarkan manusia kepada tersingkapnya hakikat-hakikat yang tertinggi serta
aneka rahasia yang membingungkan para pakar dan cendekiawan. Ini diperoleh melalui wahyu atau ilham yang shahih atau limpahan kecerahan (tajalliyaat) yang tercurah dari Allah swt. Baca QS al An'aam ayat 90.

Kata hidayah biasa dirangkaikan dengan huruf ilaa/menuju/kepada dan bisa juga tidak dirangkaikan dengannya. Sementara ulama berpendapat bahwa, bila ia disertai dengan kata ilaa, mengandung makna bahwa yang diberi petunjuk belum berada dalam jalan yang benar. Sedangkan bila tidak menggunakan kata ilaa, mengisyaratkan bahwa yang diberi petunjuk telah berada dalam jalan yang benar --kendati belum sampai pada tujuan-- dan karena itu ia masih diberi petunjuk yang lebih jelas guna menjamin sampainya ke tujuan.

Ada juga yang berpendapat bahwa kata hidayah yang menggunakan kata ilaa, hanya mengandung makna pemberitahuan.Bila ia tidak diiringi dengan kata ilaa, maka pelakunya tidak hanya diberi tahu tentang jalan yang seharusnya dia tempuh sekaligus mengantarnya menuju jalan tersebut.

Kata ash shiraat terambil dari kata saratha.Asal katanya bermakna menelan. Jalan yang lebar dinamai siraath karena sedemikian lebarnya sehingga ia bagaikan menelan si pejalan. Kata shiraath ditemukan dalam al Qur'an sebanyak 45 kali. Kesemuanya dalam bentuk tunggal. 32 diantaranya dirangkaikan dengan kata mustaqiim.

Kata ash shiraat berbeda dengan kata sabiil yang juga sering kali diterjemahkan dengan kata jalan. Shiraath hanya ada satu dan selalu bersifat benar dan haq. Sedangkan sabiil bisa benar bisa salah, bisa merupakan jalan orang yang bertakwa, bisa juga jalan orang-orang durhaka. Kepada ash shiraath bermuara semua sabiil yang baik.

Kalimat ash shiraathal mustaqiim dalam Al Faatihah merupakan jalan luas, lebar dan terdekat menuju tujuan. Jalan luas lagi lurus itu adalah segala jalan yang dapat mengantar kepada kebahagiaan dunia dan akhirat; termasuk harta yang halal, ilmu pengetahuan, kesehatan, tuntunan dan anjuran agama.

Al Qur'an juga menegaskan bahwa ash shiraath al mustaqiim adalah ibadah. Ibadah yang dimaksud adalah ibadah dalam pengertian luas yang mencakup segala kegiatan manusia, pasif maupun aktif, selama kegiatan tersebut dimaksudkan untuk mendekatkan diri kepada Allah dan mengharap ridha-Nya. Contoh konkret ash shiraath al mustaqiim adalah jalan yang ditelusuri dan gaya hidup yang diamalkan oleh para nabi; para shiddiiqiin (orang yang selalu benar dan jujur); para syuhada; dan orang-orang saleh.

Permohonan agar diberi hidayah oleh Allah sebaiknya senantiasa dipanjatkan, karena yang tersisa di sisi Allah jauh lebih banyak dan Dia menjanjikan bahwa: "Dan Allah akan menambah petunjuk untuk orang-orang yang telah mendapat petunjuk."

-Disarikan dari Tafsir Al Mishbah Quraish Shihab-

Thursday, February 2, 2012

Resensi Buku: "Kebudayaan Jawa: Ragam Kehidupan Kraton dan Masyarakat di Jawa 1222-1998"





Kraton, Raja & Posisinya di Masyarakat

Bagi masyarakat Jawa, Kraton merupakan institusi yang berpengaruh bagi kehidupan kebudayaan mereka baik secara langsung maupun tidak langsung. Kraton, menurut Kustiniyati Mochtar, adalah sebuah istana yang mengandung arti keagamaan, falsafah, dan kebudayaan. Melalui bukunya yang berjudul "Kebudayaan Jawa: Ragam Kehidupan Kraton dan Masyarakat di Jawa 1222-1998", Ageng Pangestu Rama berupaya mengupas tentang kehidupan Kraton, petingginya dan bagaimana posisi Kraton dalam kehidupan masyarakat Jawa.

Peranan pemimpin Kraton alias Raja bagi masyarakat Jawa memiliki tempat yang khusus. Raja dinilai sebagai manusia yang memiliki karisma dan kekuatan luar biasa yang dikenal dengan konsep dewa-raja (inkarnasi dewa) pada masa Hindu atau khalifatullah pada masa setelah kedatangan Islam.

Raja dipandang memiliki tiga macam wahyu, yang menjelaskan keadaan di atas yaitu wahyu nubuwah; wahyu hukumah;dan wahyu wilayah.Wahyu nubuwah adalah wahyu yang mendudukkan raja sebagai wakil Tuhan. Wahyu hukumah adalah Raja sebagai sumber hukum dan keputusannya sianggap mutlak karena dianggap sebagai kehendak Tuhan. Wahyu wilayah adalah Raja dianggap sebagai penerang dan pelindung rakyat.

Proses pencitraan Raja sebagai seseorang yang perkasa, dilakukan dengan sangat baik. Baik melalui karya sastra gubahan para pujangga; makna simbolik dari berbagai bangunan maupun upacara; serta peng-keramat-an berbagai hal di sekitar para bangsawan tersebut. Jika menilik dari kebiasaan penamaan benda-benda Kraton mulai dari senjata hingga barang 'remeh temeh' seperti perkakas dapur, dapat diambil kesimpulan bahwa barang-barang tersebut dianggap bernilai tinggi. Hal ini berbeda dengan perlakuan pencatat sejarah terhadap masyarakat. Nyaris tak pernah dicatatkan nama 'rakyat biasa', kecuali mereka mempunyai kesaktian atau memiliki hubungan dengan anggota kerajaan.

Pencitraan tersebut merupakan suatu hal yang wajar, mengingat ada sebagian manusia yang memiliki kebutuhan akan kekuasaan lebih tinggi dibandingkan manusia yang lain. Jika ditilik dari pola suksesi, cara memperoleh pendapatan, maupun peluang terhadap outsiders untuk masuk ke dalam lingkaran mereka, Kerajaan memiliki kemiripan dengan perusahaan keluarga.

Friday, January 27, 2012

Ini Soal Selera :D

Bukan, ini bukan tagline dari rokok yang terkenal itu.

Hanya ingin mengatakan bahwa selera itu area bebas rasio. Tak ada penjelasan mengapa saya menyukai kerumitan sedangkan mereka menghendaki kesederhanaan.



Suka saja

Selera saja

Tak butuh penjelasan

Titik

That's Called Disease

“Jealousy is a disease, love is a healthy condition. The immature mind often mistakes one for the other, or assumes that the greater the love, the greater the jealousy -- in fact, they're almost incompatible; one emotion hardly leaves room for the other. Both at once can produce unbearable turmoil...” [Robert Heinlein, American sci-fi writer]

Tuesday, January 3, 2012

Mereka Diusir Karena Dianggap Menular......

Beberapa anak asuh di Panti Asuhan Al Rifdah. Karena lumpuh, mereka hanya bisa bermain di lantai
"Kami pindah dari lokasi kami sebelumnya, karena warganya menolak anak-anak cacat ini. Mereka menganggap bahwa cacat itu menular dan mereka malu memiliki tetangga yang cacat", ujar Ibu Rachma, ketua panti asuhan Al Rifdah.
Ibu Rachma beserta keluarganya, selama beberapa tahun ini mengembangkan sebuah panti asuhan cacat ganda. Awalnya, mereka berlokasi di daerah sekitar Bangetayu, Semarang. Kemudian, timbullah permasalahan keberatan warga atas keberadaan panti asuhan tersebut, karena dianggap menular. Bahkan, salah satu petinggi di kawasan tersebut mendukung gerakan warga untuk mengusir panti asuhan Al Rifdah.

"Saya sudah meminta keringanan kepada Beliau untuk memberi waktu pemidahan lokasi selama satu tahun. Tapi Beliau menolak, bahkan hanya memberi tenggat enam bulan.", lanjut wanita yang juga berprofesi sebagai guru di sekolah swasta ini.

Miris sekali rasanya mendengar ada orang-orang yang tega mengusir anak-anak ini karena dianggap menular....

Pada saat ini, panti asuhan dengan 17 anak asuh tersebut telah menempati bangunan di Jl Tlogomulyo, Pedurungan, Semarang. Tanah tersebut dibeli dengan cara dicicil menggunakan dana pribadi Ibu Rachma sekeluarga. Untuk kebutuhan operasionalnya, mereka menggunakan dana pribadi; bantuan donatur; dan bantuan dari Dinas Sosial. Khusus dari Dinas Sosial, mereka mendapat Rp 1500/anak/hari untuk keperluan makan. Padahal, kebutuhan mereka akan makanan sangat besar. Sewaktu datang ke panti asuhan Al Rifdah, saya melihat seorang anak tuna netra sedari lahir yang sedang makan bubur nasi bercampur pisang. Porsinya relatif besar, hampir setara dengan orang dewasa.


Seorang anak yang lumpuh, bisu & cacat mental

Uut, anak asuh panti asuhan Al Rifdah yang tak mampu berdiri dengan tegak

"Mereka makannya, memang banyak, Mbak.", begitu jawab Ibu Rachma saat melihat keheranan saya.

Anak-anak dari panti asuhan Al Rifdah mempunyai ceritanya masing-masing. Hanya tiga di antara mereka yang masih memiliki orang tua. Sedangkan sisanya di dapatkan dari razia satpol PP di jalanan; ada yang ditinggalkan orang tuanya di RS karena tidak mau menerima kondisi anaknya yang cacat; dan ada juga yang memang sengaja dititipkan di panti asuhan tersebut oleh orang tuanya. Kondisi mereka cacat ganda, secara fisik maupun mental.

Secara berkala, anak-anak tersebut mendapatkan kunjungan dari dokter di Puskesmas. Harapan saya, mungkin suatu saat ada sekelompok dokter muda yang dengan senang hati memeriksa kesehatan anak-anak asuh cacat ganda tersebut. Kenapa harus dokter muda? Supaya mengasah jiwa sosial mereka sedari awal.

Monday, December 19, 2011

Resensi Komik: Beelzebub



Apa jadinya jika seorang remaja berandalan mengasuh bayi dari neraka? Kamu bisa temukan kisah jenaka mereka dalam komik Beelzebub karya Ryƫhei Tamura.

Secara garis besar, saya menyimpulkan bahwa komik Beelzebub adalah sebuah versi modern nan kocak dari komik Lone Wolf & Cub (LWAC). Keduanya menyiratkan dunia yang sarat maskulinitas, "bushido" dengan caranya masing-masing. Baik Beelzebub maupun LWAC menggambarkan sosok "ayah" (baik karena hubungan darah maupun bukan) yang berusaha mengajari anaknya untuk bertahan dalam dunia yang sangat keras, penuh pertarungan dan tak ada tempat bagi pengecut.

Sunday, December 18, 2011

Mbeling & Delinquent

Apakah kata 'mbeling' (bandel, bahasa Jawa) berasal dari kata 'delinquent' (bandel, bahasa Inggris)? Kalau nyari di google untuk kata kunci 'Javanese etymology', malah dapatnya link ke buku-buku. Salah satu judul bukunya "Bijdragen tot de Javaansche etymologie/ door A.C. Vreede." Itu yang nulis orang asing.... #ironis

Monday, December 12, 2011

Pride

"(De)Nok, serendah apapun orang menilai suatu pekerjaan, selama ia halal, sesungguhnya pekerjaan itu lebih baik daripada meminta-minta. Kemauan untuk bekerja itu menunjukkan bahwa ia masih memiliki harga diri.",  Ayah
Ayah sering mengajariku untuk menahan diri dari meminta-minta. Sesulit apapun keadaannya, pendapatan yang dimiliki saat itu harus dicukupkan untuk memenuhi kebutuhan hidup. Jika mendapat bantuan finansial pun, baik dari saudara kandung maupun bukan, tidak berarti kita terbebas dari kewajiban untuk bekerja.

Keterangan: Denok adalah panggilan khas Semarang untuk seorang gadis.

Gambar diambil dari sini.

Wednesday, December 7, 2011

Lessons Learned From Al Baqarah 94-103 (Taken From Al Mishbah)





Ayat 94-95:

Katakanlah: "Jika negeri akhirat itu khusus untuk kamu di sisi Allah, bukan untuk orang lain, maka inginilah kematian jika kamu memang benar." Dan sekali-kali mereka tidak akan mengingini kematian itu selama-lamanya karena apa yang telah diperbuat oleh tangan mereka (sendiri). Dan Allah Maha Mengetahui orang-orang yang aniaya."

Al Biqaa'i & Sayyid Quthub menilai ayat 94 & 95 bermaksud menyampaikan beberapa bantahan dalam satu kesempatan, yaitu bantahan terhadap ucapan Yahudi bahwa mereka hanya beberapa hari saja di neraka & bahwa surga diciptakan hanya untuk mereka karena mereka adalah kekasih Allah. Sedangkan Ibn 'Aasyuur menilai bahwa ayat 93 hanya membantah pernyataan bahwa mereka beriman kepada apa yang diturunkan kepada mereka, kemudian ayat 94-95 memerintahkan Nabi untuk membantah kandungan yang tersirat dalam ucapan mereka itu. 

Bagaimanapun juga, jalan untuk memasuki dunia akhirat adalah kematian. Jika benar ucapan orang Yahudi bahwa mereka adalah kekasih Allah, tentunya mereka menginginkan kematian. Akan tetapi, membayangkan kematian pun tidak mereka inginkan. 

Kata lan dalam ayat ini digunakan untuk menafikan sesuatu untuk selama-lamanya. Allah mengetahui isi hati semua makhluk dan menyelami pikirannya masing-masing. Pada dasarnya, semua orang ingin hidup lama, tetapi ada yang bersedia mengorbankan jiwanya untuk meraih sesuatu yang luhur di akhirat kelak. 

Perintah kepada Yahudi agar menginginkan kematian tidak bertentangan dengan larangan Nabi saw. bagi umat Islam untuk menginginkan kematian. Karena, perintah ini berkaitan dengan pembuktian ucapan-ucapan mereka, sedang larangan Nabi saw. berkaitan dengan keputusasaan menghadapi kesulitan hidup. Keinginan untuk mengorbankan diri dan mati sebagai syahid, sama sekali tidak terlarang dalam agama. *Hmmm.... Akan tetapi, penafsiran terhadap mati syahid pun bisa berbeda-beda*

Sementara ulama, seperti Ibn 'Aasyuur dan asy-Sya'raawi, menjadikan Al Baqarah ayat 94-95 sebagai salah satu bukti kebenaran al Qur'an.