Friday, March 28, 2014

Resensi Buku: Babad Tanah Jawi versi Olthof



Sebenarnya, buku ini sudah lama teronggok di sudut laci saya. Sempat membaca beberapa halaman awal, tiga tahun lalu. Lalu segera menyerah karena menganggapnya sebagai sebuah buku mitologi tebal. 


"Ini sungguh buku yang tak masuk akal..", keluh saya beberapa tahun yang lalu.


Kesimpulan tersebut rupanya terlalu dini. Saya lupa bahwa persepsi & pengalaman pembaca, sangat berperan dalam pengambilan kesimpulan. Tiga tahun terlewati. Banyak hal terjadi. Bisa saja-- saya tegaskan sekali lagi--, bisa saja, sesuatu yang dianggap tak masuk akal saat itu, karena pemikirnya tak menemui peristiwa yang terkait apa yang dibaca atau didengarnya. 


Ada banyak hal --ternyata-- yang menarik dari buku ini. Babad Tanah Jawi (BTJ) membahas banyak hal. Mulai dari genealogi manusia Jawa; sistem keuangan & valuta yang berlaku saat itu; alasan di balik peperangan yang tak selalu heroik; teknologi persenjataan; dan masih banyak lagi. 


Ditilik dari terminologi yang digunakan untuk menggambarkan jalur keturunan Nabi Adam hingga raja-raja di Jawa. Diantara mereka, terdapat Batara Guru, Batara Brahma dll. Terminologi Nabi & Dewa dalam satu jalur genealogi/keturunan. Menarik sekali. 

Awalnya, saya terjebak pada tahun yang dituliskan di buku. Saya kira menggunakan perhitungan tahun Masehi. Ternyata perhitungan tahunnya lebih cocok dengan hitungan kalender Jawa, yang berjarak 78-79 tahun lebih lambat dari Masehi. Sistem keuangan saat itu, banyak menyebutkan penggunaan uang real. Untuk gambaran sekilas, bisa menengok di web wakala. 




Kerajaan merupakan perusahaan keluarga. Jika daerah operasionalnya besar, akan menimbulkan banyak tantangan dalam pengawasannya. Butuh berapa lama untuk memberikan laporan dengan menaiki kuda? Sebagai upaya untuk mempertahankan aset, maka salah satu yang ditempuh adalah mengatur tali pernikahan. Apakah pernikahan tersebut dilandasi cinta --bweh, bahasanya bikin mual-- atau tidak merupakan persoalan lain. Dengan memastikan bahwa aset akan diteruskan dalam garis keluarga sendiri, maka incumbent akan lebih tenang dan legowo. 

Perang yang terjadi, kebanyakan dipicu o/ rebutan aset & sumber daya. Aset yang diincar terutama adalah tanah. Segala sesuatu yang ada di atas tanah tersebut (sumber daya), secara otomatis menjadi milik Raja. Bahkan warga diharuskan untuk membayar pajak, karena telah 'diijinkan' Raja untuk memperoleh kehidupan disitu. Ini mengingatkan pada kisah para Brahmin maupun kerajaan2 lain di dunia, seperti yang disebutkan dalam buku David Graeber. Berjudul Debt: The First 5,000 Years. Hubungi penulis blog jika membutuhkan buku tersebut.  





Tuesday, March 18, 2014

Sawang Sinawang

Exposing your life on public, leads to disaster. Berbagi foto keluarga atau menceritakan kisah personal di social media, mungkin tampak sepele bagi beberapa orang. Terutama, wanita-wanita yang sedang dilanda euforia karena bertambahnya anggota keluarga.

Dulu, saya termasuk santai saja memasang foto keluarga di social media. Tapi ini berubah sejak beberapa hari yang lalu. Sebuah telp masuk ke nomor hape saya, dan menyebutkan nama asli Ayah saya dengan jelas. Ini aneh karena 1. Nomor hape terbaru saya hanya diketahui segelintir orang. 2. Diantara yang mengetahui nomor hape tersebut, sangatlah sedikit yang mengetahui nama Ayah saya. Kalau itu urusan pekerjaan dengan Ayah, kenapa juga mencari ke hape saya?

You may call it over reacting. Tapi ini membuat saya berpikir. Mungkin ada yang salah dengan mempertontonkan kehidupan personal dan keluarga saya di publik. Meskipun saya tak pernah menyebutkan nama kedua orang tua di socmed, tapi saya telah berbuat salah karena memajang foto mereka. Maka, saya memutuskan untuk menghapus foto-foto mereka. Demi keamanan.

Peluang konflik antar manusia, sebanding dengan intensitas komunikasi dan jumlah populasi dalam suatu wilayah. Kini, wilayah-wilayah di dunia nyata semakin dikaburkan dengan adanya internet. Social media memungkinkan kita untuk berinteraksi dengan siapa saja, dimana saja. Anda akan kebanjiran data. Bahkan tahu ketika seorang istri kecewa dengan suami yang hobi keluyuran. Atau Ibu Darti (bukan nama sebenarnya) yang baru saja membeli sebuah rumah karena ia mengunggahnya ke social media. Mengundang orang lain untuk melihat dan berkomentar.

Tuesday, March 11, 2014

Earworm




Kalau aku bisa mendeskripsikan bagaimana rasanya jatuh cinta, maka aku akan memilih lagu ini. "Untuk Perempuan yang Sedang Dalam Pelukan", oleh Payung Teduh. Bukan liriknya yang mampu mengantarkan pemahaman tersebut, tapi lebih kepada melodinya. Seolah ada perasaan membius yang susah dijelaskan, tiap mendengarnya.

Aku terlambat untuk mengenal Payung Teduh. Tak semua lagunya cocok dengan selera pribadiku. Beberapa terasa terlalu melankolik. Tapi lagu ini punya tempat tersendiri di pikiran. Bahkan butuh diputar berkali-kali dalam satu waktu untuk menggaruk telinga agar terbebas dari "earworm" ini.

Lelaki bermata badam favoritku berceletuk, "Mungkin Payung Teduh berdzikir dahulu sebelum menciptakan lagu-lagu mereka. Sehingga bisa terasa sangat syahdu." Lalu, mungkin saja setelah postingan ini di-publish, saya akan sedikit menyesalinya. Mengapa? Karena mengungkapkan emosi melankolik, di tempat publik, termasuk aib. Setidaknya untuk akhir-akhir ini, menurut standard pribadi. Ah, terserahlah.

Friday, January 10, 2014

Mengaji yang Bagaimana?



Sebuah program membaca satu juz per hari sedang ramai bersliweran di homepage media sosial saya. Penyebab utamanya, kebanyakan jaringan saya di media tersebut diisi oleh "orang-orang masjid". Jauh sebelum program ini muncul di medsos, saya pernah mencobanya.

Membaca Qur'an sehari satu juz, memang memberikan orientasi. Setidaknya, meminjam istilah pacar, "kita itu menunggu mati dengan melakukan berbagai kegiatan". Memang hal tersebut menjauhkan dari TV atau berkomunikasi remeh temeh dengan manusia lain. Akan tetapi, ada yang terasa hilang dalam prosesnya.

Ketika berorientasi mengejar target satu juz, rasanya seperti terburu-buru. Saya lupa menikmati proses membacanya. Hal ini diperparah karena waktu itu, saya tak mengecek maknanya. Makna, bukan terjemahan.

Bahasa Qur'an merupakan bahasa langit. Terjemahannya pun, terasa seperti bahasa alien. Dibutuhkan usaha untuk membumikannya dalam versi yang dapat saya pahami dan jalankan. Melalui situs seperti qorpus quran; Lane's Lexicon; kamus dari Al Balqa Applied University memudahkan saya dalam melihat Qur'an dari sisi yang berbeda.

Metode yang saya gunakan adalah mencari kata kunci dari permasalahan yang dihadapi. Kata kunci itu digunakan sebagai pedoman dalam pencarian ayat serta akar kata dari kata-kata penyusun ayat. Saya lebih suka metode ini dibandingkan membaca seabrek ayat dengan target tertentu tapi tak paham maknanya, yang seakan terasa seperti merapal mantra.

Monday, December 30, 2013

Bersedia, Siap, Yak!

Akhir pekan lalu, saya menjalani tes pengambilan sabuk dari suatu aliran pencak silat. Jika ditanya dua tahun yang lalu, mungkin tak akan pernah terbayang bahwa saya akan berubah dari sekedar penikmat tontonan bela diri menjadi pelaku. Saya, yang dalam penghakiman diri sendiri maupun beberapa orang, memiliki tubuh yang rentan sakit dan klemar-klemer. Tak heran jika mereka kaget sekali mendengar saya sekarang berlatih pencak silat.

Acara dimulai dari jam 7 malam hingga jam 7 pagi. Tanpa tidur, bertentangan dengan apa yang kami pikir sebelumnya :)). Jadwalnya lumayan padat. Kami menjalani tes di tiga pos. Dua pos untuk pelatihan fisik dan satu untuk pelatihan mental. Istirahat untuk makan asupan karbohidrat, lalu dilanjut dengan jurit malam. Setelah jurit malam, kami harus mengambil sabuk di dalam kompleks makam. Tujuannya adalah untuk mengingat bahwa nantinya, kami akan jadi penghuni makam. Di samping itu, untuk mengalahkan ketakutan diri sendiri. Saat kami kira acara telah selesai, ternyata dilanjutkan dengan tes sambung.

Tuesday, November 26, 2013

Televisi di Ruang Keluarga Kita



Sebelum membaca lebih jauh, mari kita dengarkan lagu Naif yang berjudul Televisi.

"Aku ingin membeli tv 72 inchi. Untuk bisa aku nikmati. Bersama sanak famili"
Awal perkenalan saya dengan TV, di bawah usia tiga tahun. Saya tak tahu dengan pasti kapan. Tetapi, di sudut ingatan, masih tersisa iklan TVRI dengan taglinenya yang terkenal saat itu, " TVRI, menjalin kesatuan dan persaaatuuuaaan".

Berhubung track record saya adalah anak rumahan, kehidupan sehari-hari Mutya kecil dipenuhi dengan suguhan televisi. Meskipun kadang diselingi main "bongkar pasang" -'boneka yang terbuat dari kertas lalu kita yang menjadi sutradaranya-- atau menonton atraksi akrobatik yang dilakukan sering adik atau sekedar membaca buku. Tapi, sebagian besar interaksi saya dibatasi televisi. Main dengan tetangga? Hahaha, nyaris tak pernah. Karena TV, dulu, saya rasa cukup untuk menggantikan manusia nyata.

Saturday, November 9, 2013

Dzikir, Ceunah


Berlatar belakang sekolah Islam sewaktu TK & SMA, sedikit banyak mempengaruhi pola pikir saya tentang iman & agama. Dulu, rukun iman & rukun Islam hanyalah sebuah narasi. Narasi yang dihafalkan. 

Rukun Iman terdiri dari enam butir, yaitu:

  1. Iman kepada Allah SWT
  2. Iman kepada malaikat-malaikat
  3. Iman kepada Kitab-kitab
  4. Iman kepada Rasul-rasul
  5. Iman kepada hari kiamat
  6. Iman kepada qada & qadar

Sedangkan rukun Islam terdiri dari lima butir, yaitu:

  1. Mengucap dua kalimat syahadat
  2. Menunaikan shalat
  3. Menunaikan zakat
  4. Berpuasa di bukan Ramadhan
  5. Berhaji bagi yang mampu
Setelah sekian lama saya hidup dalam lingkungan keluarga yang kebetulan muslim, saya baru sadar. Bahwasanya, sejak awal telah ada dikotomi antara iman & agama. Agama (Islam), sebagaimana terlihat dalam rukun Islam, membutuhkan adanya ritual. Serta dibutuhkan adanya pengakuan dan terlihat oleh orang lain. Sedangkan iman, bisa saja tak dinampakkan. Sesuatu yang bersifat personal.

Akar kata syahadat syīn hā dāl (ش ه د) dalam corpus quran, disebut 160 kali dalam Al Qur'an. Diantara turunan katanya dapat berarti to testify, to bear/make/call witness, testimony, evidence, the seen, martyr, present. Dari kesemuanya, saya mengambil kesimpulan bahwa ketika seseorang disebut bersyahadat, pada hakikatnya ia mengetahui alasan mengapa ia menyebut Tuhan adalah Tuhan, dan paham mengapa mengikuti ajaran Muhammad. Seharusnya ia telah melakukan percobaan tentang kebenaran yang ada dalam dua kalimat syahadat. Seharusnya.....

Mengapa saya mengulangi kata seharusnya pada kalimat di atas? Karena saya pun belum menemukan jawaban kebenaran yang terletak pada dua kalimat syahadat. Terutama pada kalimat terakhir. Saya tak tahu, mengapa di antara sekian banyak manusia, sekian banyak rasul, cuma Muhammad yang diperlakukan istimewa. Kalau Isra Mi'raj dianggap keistimewaan Nabi Muhammad, lalu bagaimana dengan kisah Nabi Idris yang memiliki kemiripan narasi pada Book of Enoch?

Monday, June 17, 2013

Seriously, What's Wrong with Women?



Saya wanita. Secara fisik dan gender, saya wanita. No, I'm not a lesbian. Saya juga bukan pengusung masalah kesetaraan gender. Tapi, saya merasa ada yang salah dengan wanita. Well, tak semua wanita. Tapi kebanyakan dari wanita.

Coba perhatikan topik obrolan para wanita selama diskusi. Ada satu benang merah yang bisa ditarik. Kebanyakan dari kami, gemar membicarakan diri sendiri maupun orang terdekat. Baik itu dilakukan secara terbuka oleh publik, maupun di ruang privat.

Ketika bertemu dengan kawan lama atau baru berkenalan, kebanyakan wanita tak segan bertanya hal pribadi, seperti status pernikahan. Status pernikahan tampaknya sangat diagung-agungkan dalam komunitas ini. Seolah yang sudah menikah dengan yang masih melajang, ada di kelas yang berbeda.

Yang membuat saya prihatin adalah, mengapa kami hanya berputar-putar saja pada topik pribadi? Seolah porsi untuk membicarakan hal diluar kami, itu sangat sedikit dan tersisihkan. Kalaupun sedang melakukan diskusi, hampir selalu berbelok menjadi curhat. Dalam ajang curhat itu tampaknya pembicara hanya ingin untuk didengar. Bukan untuk diberikan solusi. Membingungkan, bukan?

Monday, June 3, 2013

Guilty Pleasure: That Winter, The Wind Blows


Saya termasuk bukan penggemar berat drama romantis. Apalagi yang banyak adegan berderai air mata atau tingkah lebay antara lelaki dan perempuan --terutama puisi, bweh--. Bagi saya, film dengan narasi yang dekat dengan fakta dan sedikit --hanya sedikit-- bumbu romantik itu yang menarik.

Akan tetapi, entah kenapa akhir-akhir ini mata saya tertuju pada "That Winter, The Wind Blows". Sebuah drama Korea. Layaknya film drama, tentu saja terkadang ada adegan yang lebay. You may call it is my guilty pleasure.

Sosok Oh Soo yang diperankan Jo In Sung --begitukah penulisan latinnya?-- ini membuat mata malas berkedip. Bukan karena kegantengannya. Standard ganteng saya bukan yang seperti itu. Justru karena wajahnya terlihat suram, sering mengerutkan dahi dan serius itu yang membuat tampak menarik. Umurnya, sejauh yang saya cari via googling, 32 tahun. Pria kepala tiga itu, IMO berada pada kondisi sedang menarik-menariknya. Mereka sudah mulai melihat realita dari impian remaja. Sudah mulai terbentur masalah yang lebih serius. Biasanya jenjang karir di usia ini sudah mulai kelihatan. Secara penampilan pun, rata-rata terlihat matang dan belum memiliki uban.

Saturday, April 27, 2013

Atas Nama Sejarah


Dipimpin oleh dinasti Kim sebagai puncak pimpinan, Korea Utara merupakan negara yang unik. Guy Delisle, dalam komiknya berjudul "Pyongyang: A Journey in North Korea", menggambarkan betapa keluarga Kim sangat pandai memelihara mitos.

Mitos, oleh penguasa merupakan alat yang sudah sejak lama sengaja dipelihara untuk melegitimasi kekuasaan mereka atas rakyat. Semakin pandai rakyat, maka ia akan berpeluang lebih besar untuk menjadi penghalang bagi kekuasaan yang telah ada. Salah satu mitos yang masih saja dinikmati oleh rakyat terutama wanita adalah kisah tentang Kartini. Bung @zenrs telah menuliskan lakon Kartini di setiap zaman, bergantung kepentingannya.

Secara evolusi, manusia memiliki kecenderungan untuk mempercayai takhayul ataupun mitos. Penelitian Kevin R. Foster & Hanna Kokko, menunjukkan bahwa, proses seleksi alam telah 'mengijinkan' manusia untuk memercayai ketakutannya. Lalu menimbulkan takhayul ketika tak berupaya untuk membuktikan sendiri teori mereka. Pada manusia, penilaian kausalitas dan responnya terkait pada kompleksitas kemampuan bernalar dan penyebaran budaya.

Tuesday, March 19, 2013

Mempertanyakan Keimanan

"Membaca atau mengucap syahadat sungguh berbeda dari mengalami syahadat. Syahadat bukanlah bacaan & pengalaman syahadat bukan sekadar pembacaan" [Candra Malik]
Menyatakan bentuk keimanan terhadap Deity dan menerjemahkannya dalam tindakan non verbal adalah dua hal yang berbeda. Syahadat, begitu muslim mengenalnya, terdiri dari dua pernyataan. Bagian pertama menyatakan tiada tuhan selain Tuhan. Bagian kedua menyatakan pembenaran bahwa ada manusia bernama Muhammad, merupakan utusan Tuhan.

Selama beberapa tahun terakhir, syahadat bukanlah hal yang sederhana bagi saya. Ini merupakan sesuatu yang rumit. Melibatkan pembuktian kebenaran kedua pernyataan tersebut, yang sayangnya tak semudah diucapkan. Mengingatkan pada pelajaran Introduction to Mathematical Thinking dari Prof Keith Devlin, bahwa pernyataan tersebut bersifat shahih dengan syarat. Pernyataan dengan kata sambung DAN bernilai shahih jika keduanya benar. CMIIW

Dalam sehari, seorang muslim diharapkan setidaknya mengucapkan syahadat sebanyak 10 kali, di dalam shalat wajib. Menegakkan shalat, begitu katanya. Tafsiran manusia, khususnya muslim, terhadap penegakkan shalat pun bisa jadi beragam. Jika shalat hanyalah ritual, maka syahadat tak ubahnya ucapan sehari-hari tanpa makna.

Saya meyakini ada kekuatan besar yang mengatur alam semesta ini dengan sempurna. Kebanyakan manusia melabelnya dengan Tuhan. Lalu, sejauh mana usaha manusia dalam mengenal Tuhan dan 'menjadikannya' Tuhan? Beberapa orang dengan berani mengklaim bahwa Tuhan menginginkan begini dan begitu. Bahwa tafsiran mereka akan Tuhan adalah yang paling benar dan terbaik. Bagaimana bisa mengklaim kebenaran jika mereka tidak mengkonfirmasikannya langsung terhadap Tuhan?

Setiap homo sapiens memiliki 'Tuhan'. Bergantung pada definisi dan konsep yang ia miliki. Atheis tak punya 'Tuhan'? Bisa jadi mereka menuhankan pemikiran mereka sendiri. Jadi, ketika membaca tulisan 'Tuhan' tafsirannya bisa sangat beragam.

Ketika seseorang mengakui adanya kekuatan Maha Besar bernama Tuhan, apakah otomatis ia menuhankan-Nya? Menuhankan dan menyekutukan Tuhan itu batasnya sangat tipis. Bisa jadi tanpa sadar kita menuhankan tafsiran kita sendiri akan Tuhan dan ayat. Kebanyakan manusia jaman modern seolah tak bisa hidup tanpa uang. Sehingga seolah seluruh hidupnya akan ditentukan oleh benda bernama uang--Padahal sistem uang merupakan sistem yang dibuat oleh manusia sendiri.-- Berapa banyak manusia yang menjalan ritual ibadah tapi masih memiliki kesedihan akan masa lalu dan kekhawatiran akan masa depan? Sehingga seolah tak percaya bahwa ada Tuhan yang akan memberikan yang terbaik --tergantung tafsiranmu akan solusi terbaik juga :) --

Wednesday, December 19, 2012

Braggin' Yerself, Kiddo?


Layaknya orkestra, sebuah perusahaan yang baik terdiri dari individual dengan kemampuan yang mumpuni pada bidangnya serta membutuhkan kerjasama agar menghasilkan output yang baik. Setiap individu, mempunyai perannya masing-masing dalam menentukan arah perusahaan. Ada peranan yang mudah digantikan, dan ada juga yang tidak. Tergantung dari sistem yang diciptakan. 

Seorang pimpinan perusahaan yang baik dan bijak, tahu bahwa keberhasilan perusahaan tidak bisa dikaitkan hanya dengan individu tertentu. Seberapapun baik kemampuannya, pemimpin bukanlah apa-apa jika tak mendapatkan rekan kerja --ya, saya lebih suka menyebut karyawan sebagai rekan kerja-- yang mumpuni. Kalimat seperti 'Perusahaan ini bisa maju dan berkembang karena jasa saya' dan sebagainya itu terdengar menggelitik. Setidaknya telinga saya yang tergelitik karena betapa sering akhir-akhir ini saya mendengar hal semacam itu. 

Saturday, November 24, 2012

Identitas

"Eksistensi dan identitas manusia tak harus dipajang di socmed ataupun internet.... Tak perlu lah dunia tahu siapa dirimu, apa tanggung jawabmu, apa jabatanmu. Biarkan itu semua terjawab oleh tindakan dan karya." [kutipan bebas dari Ayah]

"Manusia bisa memiliki lebih dari satu identitas. Tak perlulah mengeluarkan semua yang kita pikirkan ataupun menunjukkan semua kemampuan kita jika tak tahu berhadapan dengan siapa." [Dearest]

Ketika terlahir di dunia, manusia telah memiliki identitas, setidaknya nama dan asal muasalnya. Identitas dapat berkembang seiring waktu yang tercipta oleh lingkungan sekitar serta pengalaman. Bisa jadi, dalam keberjalanannya, orang tua menjadi kabur akan identitas anak mereka.

Monday, August 13, 2012

Lessons Learned from Miyuki Inoue & Michiyo Inoue

Merasa selalu ada kekurangan dalam fisik? Jangan. Kita perlu belajar pada sepasang anak beranak dari Jepang ini, Michiyo & Miyuki Inoue. Miyuki terlahir 500 gram, tanpa seorang ayah. Tak hanya itu, untuk menjamin keselamatan dirinya, ia menjadi buta akibat intensitas oksigen yang tinggi dalam inkubator. 

Meskipun begitu, Miyuki mampu bertahan hidup. Bahkan wanita yang terlahir 21 Agustus 1984 ini memiliki ketrampilan & kemauan yang mungkin tidak dimiliki mereka yang terlahir normal. Ia mampu menjuarai kompetisi menulis; menaiki sepeda & skuter; melakukan berbagai macam olahraga (senam lantai, berenang, trampolin, roller blade, voli untuk tuna netra, ground golf & maraton) beragam kesenian (menggambar, mematung, kolase kertas, memaku & memalu) serta mampu mengurus pekerjaan rumah. 

Lalu, faktor apa yang membuat Miyuki bisa melakukan itu? IMO, didikan dari Ibunya. Michiyo berasal dari keluarga yang berantakan. Diabaikan Ibu kandungnya sendiri, tak mengenal kasih sayang Ayah, serta nyaris dilecehkan kekasih Ibunya. Semua itu menjadikan Michiyo tumbuh menjadi perempuan yang tangguh. Ia tak mengenal sosok Ibu, sehingga Michiyo lebih pantas jika disebut berperan sebagai ayah bagi Miyuki. 

Jika pada umumnya Ibu bersifat lemah lembut, Michiyo lebih tega dalam mendidik anak. Karena ketetapan hatinya membiarkan Miyuki merasakan akibat dari setiap keinginan yang terlontar, membuat Miyuki berkembang menjadi wanita yang sama tegarnya. Miyuki menjadi wanita yang dewasa serta mandiri. Ia juga mengajari Miyuki tentang harga diri. Akan tetapi, setega-teganya Ibu, tetap saja Michiyo menangis ketika melihat Miyuki berdarah saat berlatih sepeda. Atau setidaknya memiliki dorongan --yang amat sangat ia tahan-- untuk menolong anaknya. 

Coba perhatikan juga nilai etos kerja yang tinggi yang diwariskan dari Michiyo terhadap Miyuki. Meskipun cacat secara fisik, bukan menjadi alasan bagi Miyuki untuk bergantung secara finansial kepada Ibunya. Ia ingin menjadi perawat panti jompo. Lalu, mau beralasan apalagi bagi orang yang berfisik normal untuk tidak mandiri?

PS: gambar diambil dari sini

Sunday, August 5, 2012

Tumis Gurame

Bahan:

  • 1 ekor ikan gurame (800-700 gr), bersihkan, dan sayat sedikit daging di bagian sisi badannya
  • 2 sdm air jeruk nipis
  • Garam halus secukupnya
  • Tepung maizena secukupnya, untuk melumuri ikan
  • Minyak untuk menumis dan menggoreng
Untuk tumisan:
  • 3 siung bawang putih, iris halus
  • 5 butir bawang merah, iris halus
  • 5 buah cabai merah gemuk, buang bijinya, iris serong. [kalau nggak ada, ganti saja dengan cabai merah keriting. Bijinya nggak usah dibuang, malah lebih enak]
  • 5 buah cabai hijau gemuk, buang bijinya, iris serong  [Bijinya nggak usah dibuang, malah lebih enak]
  • 1 ruas ibu jari lengkuas, iris tipis
  • 3 lembar daun salam [saya hanya menggunakan 1 lembar]
  • 2 sdm saus tomat
  • 2 batang daun bawang, iris tipis serong
  • garam & gula pasir secukupnya
  • [saya menambahkan 3/4 sdt saus tiram untuk resep ini]
  • Air secukupnya
Cara membuat: