Saturday, March 10, 2012

Survival of The Fittest

Pernah, suatu hari, saya terbangun dengan pertanyaan:

'Apa yang akan saya lakukan ketika orang-orang terdekat saya tak ada lagi di dunia fana ini? Bisakah saya bertahan hidup? Apa yang saya miliki untuk bertahan hidup?'

Pemikiran tersebut tak hanya datang sekali. Lalu muncullah sebuah tekad untuk memperbanyak kemampuan diri dengan tujuan bertahan hidup. Sejak beberapa bulan yang lalu, saya mulai mempelajari beberapa hal dan mencoba mempraktekkannya. Cuma untuk bertahan hidup.

Tapi, ketika orang-orang di sekitar mempertanyakan alasannya, mereka tak dapat menerima ide bahwa saya melakukan itu untuk bertahan hidup, terutama jika mereka suatu saat dipanggil oleh Pemilik nyawa. Sebagian dari mereka berpikir bahwa itu adalah suatu ide yang kasar, terlalu jauh.

Hm, lalu apa definisi dari kasar? Jauh? Bukankah kematian itu hal yang terdekat bagi setiap yang bernyawa? Bukankah warisan terbaik yang bisa ditinggalkan manusia adalah ilmu? Menurut mereka, itu bukan cara seorang Jawa dalam menjawab pertanyaan, terlalu kasar. Err, Jawa bagian mana? Bukankah kebudayaan Jawa bagian pedalaman dan pesisir itu berbeda?

'Perkataan tadi bisa kamu terapkan kalau kamu hidup di negara Barat! Seharusnya kamu jawab saja untuk bisa mendapatkan uang dari ketrampilan tersebut', begitu tanggapan salah satu dari mereka.

'Kenapa kamu mikirnya jelek begitu? Hati-hati dengan omongan, bisa jadi doa' ujar yang lain.

Hm, saya tidak pernah mendoakan yang terburuk bagi orang-orang terdekat saya. Saya hanya ingin mempersiapkan diri. Apa yang salah dengan mempersiapkan diri dengan segala kemungkinan? Toh orang Aceh juga tak pernah berharap bahwa banyak keluarganya meninggal ketika terjadi tsunami kan? Tapi setelah tsunami usai, mereka harus bertahan hidup. Begitupun dengan Bangsa Jepang setelah gempa besar 2011....

Hm, saya hanya berusaha mengambil setiap nilai dari berbagai kebudayaan yang menurut saya sesuai dengan konsep pribadi saya. Tak masalah apakah itu dari Barat atau Timur. Terkait motif ekonomi, IMO, hanya salah satu alat untuk bertahan hidup.

Saya tak berniat untuk melukai mereka dengan jawaban kebutuhan saya untuk bertahan hidup tadi. Tapi entah kenapa beberapa orang sangat tersinggung.  Rupanya, dalam suatu komunitas yang dihubungkan dalam darah sekali pun, tidak menjamin seluruh anggotanya memiliki konsep nilai yang sama. Tapi saya percaya, masih ada individu-individu di luar sana yang memiliki irisan pemikiran & nilai, meskipun tak pernah bertatap muka sebelumnya. Dan, nilai itu bisa saja berubah & berkembang, sesuai dengan keadaan.

Friday, February 24, 2012

Memaknai Bahasa



Bahasa merupakan tools yang digunakan manusia untuk berkomunikasi dengan manusia yang lain. Ia dapat menjadi alat propaganda/alat penyebar ide, alat pengendali kesadaran maupun alam bawah sadar (hipnotis), maupun sebagai alat identitas. Cara paling mudah untuk mengetahui dengan siapa kita berhadapan adalah dengan membaca tulisannya dan mengamati tema besar dari pemikirannya. Lalu cross check dengan kenyataan di lapangan.

Wanita pada umumnya menggunakan bahasa tersembunyi yang terkadang bisa disalahartikan oleh lawan bicaranya.

Dampak kesalahan penafsiran bahasa bisa beragam, mulai dari kebingungan; kehilangan pekerjaan; kehilangan transaksi/uang; hingga kehilangan nyawa.  Maka, berhati-hatilah ketika berbahasa :)

Tuesday, February 7, 2012

Show Me The Right Way

Sebarapa sering kamu merasa seperti layangan putus yang tak tentu arah? Mungkin, salah satu solusinya adalah memanjatkan & memahami makna dari Ihdinashshiraathal mustaqiim.  Lalu, apa makna dari QS Al Faatihah ayat 6 ini?

Kata ihdinaa bermakna dua yaitu:
1. Tampil ke depan memberi petunjuk
2. Menyampaikan dengan lemah lembut

Petunjuk Allah bermacam-macam sesuai dengan peranan yang diharapkan makhluk. Terdapat tiga tingkat petunjuk, yaitu:

1. Naluri, yang terbatas pada penciptaan dorongan untuk mencari hal-hal yang dibutuhkan.
2. Pancaindra
3. Akal.

Meskipun petunjuk akal sangat penting dan berharga, ia hanya berfungsi dalam batas-batas tertentu dan tidak mampu menuntun manusia keluar dari jangkauan alam fisika. Bidang operasinya adalah bidang alam nyata dan dalam bidang ini pun tidak jarang manusia terpedaya oleh kesimpulan-kesimpulan akal sehingga akal tidak merupakan jaminan menyangkut seluruh kebenaran yang didambakan.

"Logika adalah suatu ilmu yang dirumuskan oleh Aristoteles yang bertujuan memelihara perumusnya, apalagi orang lain, dari kesalahan-kesalahan.", Syaikh 'Abdul Haalim Mahmud.

Karena itu, manusia memerlukan petunjuk yang melebihi petunjuk akal, sekaligus meluruskan kekeliruannya dalam bidang-bidang tertentu. Petunjuk tersebut adalah hidayah agama.

Sementara ulama membagi petunjuk agama menjadi dua, yaitu:
1. Petunjuk menuju kebahagiaan duniawi dan ukhrawi. Baca Asy Syuuraa ayat 52 & Fushshilat ayat 17.
2. Petunjuk serta kemampuan untuk melaksanakan isi petunjuk. Ini tidak dapat dilakukan kecuali oleh Allah swt. Baca Al Qashash ayat 56

Thaahir Ibn 'Aasyuur membagi hidayah dalam empat tingkatan, yaitu:
1. Al quwaa al muharrikah wa al mudrikah atau potensi penggerak dan tahu. Potensi ini hanya terbatas pada manusia yang memerolehnya melalui pengetahuan yang bersifat indriawi.
2. Petunjuk yang berkaitan dengan dalil-dalil yang dapat membedakan antara yang haq dan batil. Petunjuk ini adalah hidayah pengetahuan teoretis.
3. Hidayah yang tidak dapat dijangkau oleh analisis dan aneka argumentasi akliah atau yang bila diusahakan akan sangat memberatkan manusia. Hidayah ini dianugerahkan Allah swt. dengan mengutus para rasul-Nya serta menurunkan kitab-kitab-Nya dan inilah yang diisyaratkan oleh QS. al Anbiyaa' ayat 73
4. Hidayah yang mengentarkan manusia kepada tersingkapnya hakikat-hakikat yang tertinggi serta
aneka rahasia yang membingungkan para pakar dan cendekiawan. Ini diperoleh melalui wahyu atau ilham yang shahih atau limpahan kecerahan (tajalliyaat) yang tercurah dari Allah swt. Baca QS al An'aam ayat 90.

Kata hidayah biasa dirangkaikan dengan huruf ilaa/menuju/kepada dan bisa juga tidak dirangkaikan dengannya. Sementara ulama berpendapat bahwa, bila ia disertai dengan kata ilaa, mengandung makna bahwa yang diberi petunjuk belum berada dalam jalan yang benar. Sedangkan bila tidak menggunakan kata ilaa, mengisyaratkan bahwa yang diberi petunjuk telah berada dalam jalan yang benar --kendati belum sampai pada tujuan-- dan karena itu ia masih diberi petunjuk yang lebih jelas guna menjamin sampainya ke tujuan.

Ada juga yang berpendapat bahwa kata hidayah yang menggunakan kata ilaa, hanya mengandung makna pemberitahuan.Bila ia tidak diiringi dengan kata ilaa, maka pelakunya tidak hanya diberi tahu tentang jalan yang seharusnya dia tempuh sekaligus mengantarnya menuju jalan tersebut.

Kata ash shiraat terambil dari kata saratha.Asal katanya bermakna menelan. Jalan yang lebar dinamai siraath karena sedemikian lebarnya sehingga ia bagaikan menelan si pejalan. Kata shiraath ditemukan dalam al Qur'an sebanyak 45 kali. Kesemuanya dalam bentuk tunggal. 32 diantaranya dirangkaikan dengan kata mustaqiim.

Kata ash shiraat berbeda dengan kata sabiil yang juga sering kali diterjemahkan dengan kata jalan. Shiraath hanya ada satu dan selalu bersifat benar dan haq. Sedangkan sabiil bisa benar bisa salah, bisa merupakan jalan orang yang bertakwa, bisa juga jalan orang-orang durhaka. Kepada ash shiraath bermuara semua sabiil yang baik.

Kalimat ash shiraathal mustaqiim dalam Al Faatihah merupakan jalan luas, lebar dan terdekat menuju tujuan. Jalan luas lagi lurus itu adalah segala jalan yang dapat mengantar kepada kebahagiaan dunia dan akhirat; termasuk harta yang halal, ilmu pengetahuan, kesehatan, tuntunan dan anjuran agama.

Al Qur'an juga menegaskan bahwa ash shiraath al mustaqiim adalah ibadah. Ibadah yang dimaksud adalah ibadah dalam pengertian luas yang mencakup segala kegiatan manusia, pasif maupun aktif, selama kegiatan tersebut dimaksudkan untuk mendekatkan diri kepada Allah dan mengharap ridha-Nya. Contoh konkret ash shiraath al mustaqiim adalah jalan yang ditelusuri dan gaya hidup yang diamalkan oleh para nabi; para shiddiiqiin (orang yang selalu benar dan jujur); para syuhada; dan orang-orang saleh.

Permohonan agar diberi hidayah oleh Allah sebaiknya senantiasa dipanjatkan, karena yang tersisa di sisi Allah jauh lebih banyak dan Dia menjanjikan bahwa: "Dan Allah akan menambah petunjuk untuk orang-orang yang telah mendapat petunjuk."

-Disarikan dari Tafsir Al Mishbah Quraish Shihab-

Thursday, February 2, 2012

Resensi Buku: "Kebudayaan Jawa: Ragam Kehidupan Kraton dan Masyarakat di Jawa 1222-1998"





Kraton, Raja & Posisinya di Masyarakat

Bagi masyarakat Jawa, Kraton merupakan institusi yang berpengaruh bagi kehidupan kebudayaan mereka baik secara langsung maupun tidak langsung. Kraton, menurut Kustiniyati Mochtar, adalah sebuah istana yang mengandung arti keagamaan, falsafah, dan kebudayaan. Melalui bukunya yang berjudul "Kebudayaan Jawa: Ragam Kehidupan Kraton dan Masyarakat di Jawa 1222-1998", Ageng Pangestu Rama berupaya mengupas tentang kehidupan Kraton, petingginya dan bagaimana posisi Kraton dalam kehidupan masyarakat Jawa.

Peranan pemimpin Kraton alias Raja bagi masyarakat Jawa memiliki tempat yang khusus. Raja dinilai sebagai manusia yang memiliki karisma dan kekuatan luar biasa yang dikenal dengan konsep dewa-raja (inkarnasi dewa) pada masa Hindu atau khalifatullah pada masa setelah kedatangan Islam.

Raja dipandang memiliki tiga macam wahyu, yang menjelaskan keadaan di atas yaitu wahyu nubuwah; wahyu hukumah;dan wahyu wilayah.Wahyu nubuwah adalah wahyu yang mendudukkan raja sebagai wakil Tuhan. Wahyu hukumah adalah Raja sebagai sumber hukum dan keputusannya sianggap mutlak karena dianggap sebagai kehendak Tuhan. Wahyu wilayah adalah Raja dianggap sebagai penerang dan pelindung rakyat.

Proses pencitraan Raja sebagai seseorang yang perkasa, dilakukan dengan sangat baik. Baik melalui karya sastra gubahan para pujangga; makna simbolik dari berbagai bangunan maupun upacara; serta peng-keramat-an berbagai hal di sekitar para bangsawan tersebut. Jika menilik dari kebiasaan penamaan benda-benda Kraton mulai dari senjata hingga barang 'remeh temeh' seperti perkakas dapur, dapat diambil kesimpulan bahwa barang-barang tersebut dianggap bernilai tinggi. Hal ini berbeda dengan perlakuan pencatat sejarah terhadap masyarakat. Nyaris tak pernah dicatatkan nama 'rakyat biasa', kecuali mereka mempunyai kesaktian atau memiliki hubungan dengan anggota kerajaan.

Pencitraan tersebut merupakan suatu hal yang wajar, mengingat ada sebagian manusia yang memiliki kebutuhan akan kekuasaan lebih tinggi dibandingkan manusia yang lain. Jika ditilik dari pola suksesi, cara memperoleh pendapatan, maupun peluang terhadap outsiders untuk masuk ke dalam lingkaran mereka, Kerajaan memiliki kemiripan dengan perusahaan keluarga.

Friday, January 27, 2012

Ini Soal Selera :D

Bukan, ini bukan tagline dari rokok yang terkenal itu.

Hanya ingin mengatakan bahwa selera itu area bebas rasio. Tak ada penjelasan mengapa saya menyukai kerumitan sedangkan mereka menghendaki kesederhanaan.



Suka saja

Selera saja

Tak butuh penjelasan

Titik

That's Called Disease

“Jealousy is a disease, love is a healthy condition. The immature mind often mistakes one for the other, or assumes that the greater the love, the greater the jealousy -- in fact, they're almost incompatible; one emotion hardly leaves room for the other. Both at once can produce unbearable turmoil...” [Robert Heinlein, American sci-fi writer]

Tuesday, January 3, 2012

Mereka Diusir Karena Dianggap Menular......

Beberapa anak asuh di Panti Asuhan Al Rifdah. Karena lumpuh, mereka hanya bisa bermain di lantai
"Kami pindah dari lokasi kami sebelumnya, karena warganya menolak anak-anak cacat ini. Mereka menganggap bahwa cacat itu menular dan mereka malu memiliki tetangga yang cacat", ujar Ibu Rachma, ketua panti asuhan Al Rifdah.
Ibu Rachma beserta keluarganya, selama beberapa tahun ini mengembangkan sebuah panti asuhan cacat ganda. Awalnya, mereka berlokasi di daerah sekitar Bangetayu, Semarang. Kemudian, timbullah permasalahan keberatan warga atas keberadaan panti asuhan tersebut, karena dianggap menular. Bahkan, salah satu petinggi di kawasan tersebut mendukung gerakan warga untuk mengusir panti asuhan Al Rifdah.

"Saya sudah meminta keringanan kepada Beliau untuk memberi waktu pemidahan lokasi selama satu tahun. Tapi Beliau menolak, bahkan hanya memberi tenggat enam bulan.", lanjut wanita yang juga berprofesi sebagai guru di sekolah swasta ini.

Miris sekali rasanya mendengar ada orang-orang yang tega mengusir anak-anak ini karena dianggap menular....

Pada saat ini, panti asuhan dengan 17 anak asuh tersebut telah menempati bangunan di Jl Tlogomulyo, Pedurungan, Semarang. Tanah tersebut dibeli dengan cara dicicil menggunakan dana pribadi Ibu Rachma sekeluarga. Untuk kebutuhan operasionalnya, mereka menggunakan dana pribadi; bantuan donatur; dan bantuan dari Dinas Sosial. Khusus dari Dinas Sosial, mereka mendapat Rp 1500/anak/hari untuk keperluan makan. Padahal, kebutuhan mereka akan makanan sangat besar. Sewaktu datang ke panti asuhan Al Rifdah, saya melihat seorang anak tuna netra sedari lahir yang sedang makan bubur nasi bercampur pisang. Porsinya relatif besar, hampir setara dengan orang dewasa.


Seorang anak yang lumpuh, bisu & cacat mental

Uut, anak asuh panti asuhan Al Rifdah yang tak mampu berdiri dengan tegak

"Mereka makannya, memang banyak, Mbak.", begitu jawab Ibu Rachma saat melihat keheranan saya.

Anak-anak dari panti asuhan Al Rifdah mempunyai ceritanya masing-masing. Hanya tiga di antara mereka yang masih memiliki orang tua. Sedangkan sisanya di dapatkan dari razia satpol PP di jalanan; ada yang ditinggalkan orang tuanya di RS karena tidak mau menerima kondisi anaknya yang cacat; dan ada juga yang memang sengaja dititipkan di panti asuhan tersebut oleh orang tuanya. Kondisi mereka cacat ganda, secara fisik maupun mental.

Secara berkala, anak-anak tersebut mendapatkan kunjungan dari dokter di Puskesmas. Harapan saya, mungkin suatu saat ada sekelompok dokter muda yang dengan senang hati memeriksa kesehatan anak-anak asuh cacat ganda tersebut. Kenapa harus dokter muda? Supaya mengasah jiwa sosial mereka sedari awal.

Monday, December 19, 2011

Resensi Komik: Beelzebub



Apa jadinya jika seorang remaja berandalan mengasuh bayi dari neraka? Kamu bisa temukan kisah jenaka mereka dalam komik Beelzebub karya Ryƫhei Tamura.

Secara garis besar, saya menyimpulkan bahwa komik Beelzebub adalah sebuah versi modern nan kocak dari komik Lone Wolf & Cub (LWAC). Keduanya menyiratkan dunia yang sarat maskulinitas, "bushido" dengan caranya masing-masing. Baik Beelzebub maupun LWAC menggambarkan sosok "ayah" (baik karena hubungan darah maupun bukan) yang berusaha mengajari anaknya untuk bertahan dalam dunia yang sangat keras, penuh pertarungan dan tak ada tempat bagi pengecut.

Sunday, December 18, 2011

Mbeling & Delinquent

Apakah kata 'mbeling' (bandel, bahasa Jawa) berasal dari kata 'delinquent' (bandel, bahasa Inggris)? Kalau nyari di google untuk kata kunci 'Javanese etymology', malah dapatnya link ke buku-buku. Salah satu judul bukunya "Bijdragen tot de Javaansche etymologie/ door A.C. Vreede." Itu yang nulis orang asing.... #ironis

Monday, December 12, 2011

Pride

"(De)Nok, serendah apapun orang menilai suatu pekerjaan, selama ia halal, sesungguhnya pekerjaan itu lebih baik daripada meminta-minta. Kemauan untuk bekerja itu menunjukkan bahwa ia masih memiliki harga diri.",  Ayah
Ayah sering mengajariku untuk menahan diri dari meminta-minta. Sesulit apapun keadaannya, pendapatan yang dimiliki saat itu harus dicukupkan untuk memenuhi kebutuhan hidup. Jika mendapat bantuan finansial pun, baik dari saudara kandung maupun bukan, tidak berarti kita terbebas dari kewajiban untuk bekerja.

Keterangan: Denok adalah panggilan khas Semarang untuk seorang gadis.

Gambar diambil dari sini.

Wednesday, December 7, 2011

Lessons Learned From Al Baqarah 94-103 (Taken From Al Mishbah)





Ayat 94-95:

Katakanlah: "Jika negeri akhirat itu khusus untuk kamu di sisi Allah, bukan untuk orang lain, maka inginilah kematian jika kamu memang benar." Dan sekali-kali mereka tidak akan mengingini kematian itu selama-lamanya karena apa yang telah diperbuat oleh tangan mereka (sendiri). Dan Allah Maha Mengetahui orang-orang yang aniaya."

Al Biqaa'i & Sayyid Quthub menilai ayat 94 & 95 bermaksud menyampaikan beberapa bantahan dalam satu kesempatan, yaitu bantahan terhadap ucapan Yahudi bahwa mereka hanya beberapa hari saja di neraka & bahwa surga diciptakan hanya untuk mereka karena mereka adalah kekasih Allah. Sedangkan Ibn 'Aasyuur menilai bahwa ayat 93 hanya membantah pernyataan bahwa mereka beriman kepada apa yang diturunkan kepada mereka, kemudian ayat 94-95 memerintahkan Nabi untuk membantah kandungan yang tersirat dalam ucapan mereka itu. 

Bagaimanapun juga, jalan untuk memasuki dunia akhirat adalah kematian. Jika benar ucapan orang Yahudi bahwa mereka adalah kekasih Allah, tentunya mereka menginginkan kematian. Akan tetapi, membayangkan kematian pun tidak mereka inginkan. 

Kata lan dalam ayat ini digunakan untuk menafikan sesuatu untuk selama-lamanya. Allah mengetahui isi hati semua makhluk dan menyelami pikirannya masing-masing. Pada dasarnya, semua orang ingin hidup lama, tetapi ada yang bersedia mengorbankan jiwanya untuk meraih sesuatu yang luhur di akhirat kelak. 

Perintah kepada Yahudi agar menginginkan kematian tidak bertentangan dengan larangan Nabi saw. bagi umat Islam untuk menginginkan kematian. Karena, perintah ini berkaitan dengan pembuktian ucapan-ucapan mereka, sedang larangan Nabi saw. berkaitan dengan keputusasaan menghadapi kesulitan hidup. Keinginan untuk mengorbankan diri dan mati sebagai syahid, sama sekali tidak terlarang dalam agama. *Hmmm.... Akan tetapi, penafsiran terhadap mati syahid pun bisa berbeda-beda*

Sementara ulama, seperti Ibn 'Aasyuur dan asy-Sya'raawi, menjadikan Al Baqarah ayat 94-95 sebagai salah satu bukti kebenaran al Qur'an. 

Friday, November 11, 2011

Resensi Buku: Riwayat Semarang

Judul: Riwayat Semarang
Penulis: Liem Thian Joe
Tebal: 319 halaman
ISBN: 979-96952-1-X

Semarang merupakan salah satu kota tertua di Jawa Tengah yang bermodelkan kota perdagangan. Posisinya dalam perekonomian masyarakat Hindia Belanda di Pulau Jawa amat penting karena ia merupakan jalur distribusi utama dari barang-barang import untuk disalurkan ke daerah terpencil maupun barang-barang yang hendak di-eksport ke benua Eropa. Bahkan, pada tahun 1702, Semarang menjadi ibukota dari kerajaan Mataram.

Liem Thian Joe dalam Riwayat Semarang lebih banyak menyorot tentang kehidupan Hoakiauw (Tionghoa perantau) di Semarang. Bangsa Tionghoa diperkirakan pada tahun 1416 sudah datang menetap di Semarang. Mereka datang dengan menggunakan perahu jonk, yang kebanyakan mendarat di daerah Mangkang. Setelah keadaan politik & perekonomian Tiongkok memburuk pada masa pendudukan Manchu, maka semakin banyak penduduknya yang memilih untuk merantau, termasuk ke wilayah Semarang.

Pada tahun 1600-an, terdapat banyak kaum peranakan di Pulau Jawa. Mereka berayah Tionghoa dan beribu pribumi. Hal tersebut menyebabkan akulturasi kebudayaan antara Tionghoa dan pribumi. Akan tetapi, kebanyakan anak perempuan dari pernikahan tersebut menganut budaya Ibu-nya (hal 16). Hal ini disebabkan mereka dianggap tidak dapat menurunkan marga dan secara budaya Tionghoa, Ayah tidak dekat dengan anak-anak perempuan mereka.

Wednesday, November 9, 2011

Psikosomatis, Kegalauan Tingkat Tinggi


Galau, begitu mereka menyebutnya....

Seorang kawan pernah memberikan analisanya dalam bentuk artikel di blog pribadinya tentang fenomena galau yang melanda masyarakat. Saya mengangguk setuju kepadanya bahwa masyarakat --dimana saya termasuk bagian daripadanya-- menunjukkan tanda-tanda semakin galau dari waktu ke waktu. Entah karena keadaan ekonomi, politik, isu keluarga, dll. Menariknya, berkat sosial media seperti FB dan twitter, banyak yang menyebarkan kegalauannya dan menjadi semacam virus bagi orang lain.

Virus galau hanya menjangkit ABG alay? Tidak juga. Banyak kenalan saya dari berbagai latar belakang pun terkena virus galau. Justru semakin intelek mereka, semakin besar peluang untuk galau. Coba tengok saja orang-orang yang lama berkutat di teori dan tidak melakukan banyak aksi untuk menyalurkan pengetahuan mereka. Biasanya mereka gampang sekali mengeluarkan suatu kritik, tapi ketika ditantang untuk melakukannya, mereka mundur..... Terlalu gampang putus asa ketika mengkalkulasi resiko yang akan mereka hadapi di masa datang.... Terlalu gampang cemas atas pikiran mereka sendiri yang belum dibuktikan kebenarannya....

Untuk mempelajari & memahami sebuah teori itu membutuhkan energi yang besar. Apabila energi yang besar itu tidak mendapatkan penyaluran yang tepat, biasanya ia akan bersifat destruktif. Sama halnya dengan terlalu lama belajar dan tidak pernah menggunakannya. Bisa jadi suatu penyakit.. Psikosomatis atau kalau dalam kamus saya, galau tingkat tinggi hingga mempengaruhi keadaan fisik. Disadari atau tidak, keberadaan orang yang mengidap psikosomatis itu banyak. Bisa jadi orang terdekatmu, bahkan kamu sendiri mengidapnya.... Psikosomatis bisa dihindari dengan menyeimbangkan antara apa yang kita pelajari dengan yang kita perbuat; berkawan dengan banyak pemberani; serta melatih kemampuan fisik & psikis secara berkala.

Di akhir tulisan, saya hendak mengutip perkataan orang terdekat saya, "Orang nekat adalah orang yang tidak meng-kalkulasi resiko tetapi dia melaksanakannya. Sedangkan pemberani adalah ia yang tahu resikonya dan ia tetap melaksanakannya." "Dan penakut adalah ia yang tak mengambil tindakan apapun," tambahku

Wednesday, October 19, 2011

The Irony of Corleone



Setiap pekerjaan memiliki resiko, termasuk kematian. Beberapa orang mencoba mengambil resiko kehilangan nyawa dengan cara gagah berani di medan laga, sebagai pahlawan. Yang terkadang dilupakan, setiap orang memiliki medan laganya sendiri. Begitupun dengan keluarga Corleone.

Keluarga fiktif karangan Mario Puzo ini memilih medan laga yang keras dan penuh darah dalam arti sebenarnya. Dalam situasi bisnis yang 'basah' akan uang dan darah, Don Vito Corleone berusaha memajukan perusahaannya sembari terus melindungi keluarganya. Tak jauh beda dengan para pachter madat di jaman pendudukan VOC di Indonesia, ia memiliki segerombolan 'cabang atas' alias 'pengawal'. Hampir setiap waktu, Vito maupun para Don yang berkuasa, menghadapi resiko kematian. Kalau diperhatikan lebih cermat lagi, keluarga para hartawan tersebutpun tak luput dari ancaman kematian dari para kompetitor bisnis.

Vito, yang digambarkan sebagai seorang Ayah yang penuh kasih sayang, di saat yang bersamaan merupakan pemimpin perusahaan dengan strategi yang jitu. Ia tak pernah membeberkan apa yang sebenarnya ia pikirkan, termasuk kepada anak-anaknya sendiri, karena bagi Vito tak ada orang yang pantas dipercaya. Karakter ini menurun kepada anak kesayangannya, Michael. Orang-orang yang rumit, tapi disitulah letak pesona mereka.

Baik Michael maupun Vito, dianugerahi istri-istri dengan karakter yang baik dan cenderung lugu, terutama Mama Corleone atau Carmela Corleone. Bedanya, Kay lebih kritis dibandingkan Carmela. Dia menolak menghadapi kenyataan bahwa Michael, suaminya, telah menyembunyikan fakta bahwa ia telah berkecimpung dalam bisnis yang 'kotor'. *Btw, kotor ataupun bersih itu bersifat subyektif bagi tiap orang*. Sehingga Kay mengajukan perceraian.

Saya bersimpati kepada Carmela, atau lebih tepatnya merasa kasihan dengannya. Ia sering dikelabui oleh orang-orang disekitarnya bahwa keadaan baik-baik saja. Itu semakin terlihat ketika Michael diam-diam menyuruh pembunuh bayaran, Al Neri, untuk membunuh Fredo, kakak dari Michael. Ironis......

Perlakuan mereka terhadap Carmela Corleone tak ubahnya memberikan gas nitrogen oksida kepada seseorang yang dicintai. Biasanya, orang yang diberi gas nitrogen oksida, atau yang lebih dikenal dengan nama gas tawa, merasa bahagia. Namun pemberian nitrogen oksida secara berlebihan, akan menimbulkan kematian. Ironisnya, mereka mati dengan tawa.

Saturday, September 10, 2011

Ketika Mbak Pulang....

Seringkali, manusia *saya, maksudnya*, memiliki kecenderungan untuk menganggap remeh pekerjaan orang lain. Pekerjaan rumah tangga yang nampaknya tidak bergengsi itu, ternyata tidak mudah untuk dijalani. Sedari kecil, karena terbiasa memiliki PRT, saya nyaris tidak pernah memegang urusan rumah tangga. Jangankan mencuci pakaian, menyapu saja rasanya sangat malas.

Tapi urusan bisa beda ketika para Mbak *begitu saya memanggil mereka*, pulang kampung. Masya Allah, pekerjaan rumah serasa tidak habis-habis. Dari subuh hingga isya', adaaaa saja pekerjaan. Dari nyuci pakaianlah *padahal pakai mesin, hehehe*, nyetrika pakaian, nyapu dan ngepel lantai, membersihkan kamar mandi, dll. Fiuuuuhhhh...... Badan yang terbiasa manja ini akhirnya merasakan beratnya pekerjaan yang 'remeh temeh' tersebut.

Jika dipikir-pikir, kita meng-hire PRT untuk melakukan pekerjaan domestik. Dengan menggaji mereka, timbul pikiran bahwa kita adalah bos mereka. Padahal, kalau kita terbiasa dilayani dan manja, merekalah yang akan menjadi bos kita. Coba bayangkan kalau kamu seorang Ibu dengan dua anak yang masih berusia balita, kemudian memiliki perusahaan sendiri, lalu para PRT pulang kampung.... Tadaaaaa! Hasilnya adalah kemungkinan besar waktu kamu akan tersita pada pekerjaan rumah dan bisnis akan 'sedikit' terganggu, kecuali kalau perusahaan kamu sudah mapan dan sudah ada orang kepercayaan disana yang dapat diserahi tugas untuk sementara waktu.

Maka, dengan badan yang pegal dan kepala yang penat ini *lebay*, saya mengakui bahwa pekerjaan rumah tangga itu sangat berat dan dibutuhkan stamina yang besar. Tidak semua orang bisa melakukannya dengan baik & benar. Seseorang akan mudah melakukan judgement pada suatu hal yang belum pernah ia kerjakan sendiri. Memberi perintah itu sangat mudah, tapi melaksanakan perintah itu terlebih dahulu sebelum bawahan mengerjakannya itu yang susah. Salut bagi para PRT yang melakukan tugas dengan baik sehingga banyak keluarga yang dapat lebih produktif di luar rumah *Oh ya? Ada hubungannya secara langsung begitu?*. Selain itu saya juga ingin memberikan salut setinggi-tingginya pada para Ibu yang mengerjakan semua pekerjaan rumah tangga sendiri, *meskipun punya pasukan Mbak* yang tetap memberi perhatian pada tumbuh kembang anak-anaknya, memberi perhatian pada suami dan tetap berkarya bagi masyarakat.