Saturday, November 27, 2010

Me & My Own Version of Bima

Suka nonton wayang kulit?

Kalau aku, hmmmm, entahlah.... Hahaha.... Dibilang suka, tapi jarang banget nonton (halah, bilang aja cuma bisa dihitung dengan jari. Itupun lewat TV :)) ) Dibilang enggak suka, tapi saya suka banget sama beberapa tokohnya (gak terlalu relevan :)) )

Nah, dalam pewayangan, saya tentu saja menyukai Pandawa, sama seperti semua orang (sok tau). Pandawa terdiri dari lima kakak beradik satu ayah beda ibu yang gemar membela kebajikan.  


Wednesday, November 24, 2010

Cantik Itu...


Aku lebih suka dibilang pintar, daripada cantik, dek.
Kata-kata kerabatku itu terus terngiang di telingaku sejak Senin siang. Sepanjang perjalanan dari tempat makan hingga detik ini, aku terus berpikir tentang konsep kecantikan. Sebenarnya, apa sih yang dimaksud dengan cantik? Coba kamu tengok dalam kamus , maka sebagian besar akan mengaitkannya dengan keelokan wajah. Hmmm.... Tapi tampaknya saya punya definisi yang berbeda tentang kecantikan.

Wednesday, November 17, 2010

Celoteh Adek (3): Anggaran Negara

Tadi siang, terdapat sebuah 'perdebatan kusir' antara Mama dan Adek.

Adek: Kemarin aku dapat pertanyaan dari dosen, 'seandainya kamu jadi pejabat dan diberi akses kepada anggaran negara, apa yang kamu lakukan?'

Trus aku jawab, 'Hmmm.... Aku pilih untuk menambah anggaran buat pertahanan negara a.k.a militer

Saya: Kenapa?

Adek: Nih ya, aku baca di buku-buku, trus kata orang-orang suatu negara itu butuh militer yang kuat supaya gak diinjek-injek. Coba aja tuh Indonesia, diinjek-injek terus kan sama Malaysia. Itu karena Indonesia gak punya militer yang kuat, jadi ketika dikonfrontir dengan Malaysia dengan menggayang mereka, waaahhh..... Bisa kalah kita, karena biaya perang itu mahal.

Mama: Kalau Mama sih lebih pilih untuk memperbesar pendidikan. Masak ntar negara kita militernya kuat, tapi orang-orangnya miskin dan bodoh?

Adek: Lho, tapi militer itu penting banget *Gak mau kalah*

Dan mereka pun berdebat......

Tanpa ditanya oleh Adek maupun Mama *hiks*, saya berkata bahwa jika saya diberi akses ke anggaran negara, saya masih bingung untuk memutuskan antara kesehatan dan pendidikan. Alasannya karena pendidikan itu amat esensial, *eh tapi nampaknya masih bisa diupayakan lewat institusi paling kecil bernama keluarga*. Sedangkan kesehatan juga penting, karena untuk bisa berkarya, kita harus sehat terlebih dahulu.

Nah, apa yang Anda lakukan Anda diberi akses kepada anggaran negara dan diharuskan untuk memilih satu bidang yang paling Anda anggap krusial?

Tuesday, November 9, 2010

Kompetisi Adalah Hal Yang Menyenangkan

Aku: Kompetisi adalah hal yang menarik. Dibutuhkan kejelian dalam menilai pasar, product dan dan peluang. Permasalahannya, tak semua orang dapat melihat peluang dan menaksir harga dari produk. Jika produk sudah mulai ramai dibicarakan (jadi trend) dan sudah ditawar oleh kompetitor, terkadang pemain baru menyadari harga dari produk tersebut. Sayang sekali. Peluang emas itu jarang datang dua kali, Bung.

Bung Bijak: Oh, saya tidak akan membahas tentang peluang. Saya hanya akan menyorot dari segi strategi untuk mengalahkan kompetitor. Untuk bisa memenangkan sebuah kompetisi, Anda harus mengetahui pemikiran dari lawan.

Aku: Ngaco! Dari mana kita bisa mengetahui pemikiran orang lain, jika kita tak dapat memahami pikiran kita sendiri? :D

Bung Bijak: Ah, kalau Anda tak pernah mengalaminya, lebih baik Anda diam saja. Ya, Anda harus bisa membaca pikiran lawan, selicik apapun selugu apapun. Tapi bukan berarti saya menyuruh Anda untuk bermain licik. Tidak, sama sekali tidak. Saya justru menyarankan Anda untuk main cantik. Ada kepuasan tertentu jika Anda dapat bermain 'jujur' dan menang ketimbang menggunakan cara licik lalu menang.

Aku: Hahaha.... Permasalahannya, hanya sedikit orang 'jujur' yang menang, Bung.

Bung Bijak: Ya, sedikit tapi tetap ada kan? :P. Dan tahukah Anda hal terbaik yang bisa Anda lakukan selain memenangkan sebuah kompetisi? Yaitu menciptakan kompetisi itu sendiri. Kekekekek.....





#Percakapan Imajiner dengan Bung (Sok) Bijak akibat munculnya pemain lama, yang mulai terlupakan, dalam memperebutkan pangsa pasar yang sama dengan pemain baru yang sedang baik daun. namun produk yang ada sudah dikemas dengan berbeda. Eits, pangsa pasar sama tapi ada pergeseran perilaku konsumen yang sangat drastis dalam jangka waktu yang relatif pendek. Bingung bagaimana itu bisa terjadi? Tak mengapa, memang sengaja membuat bingung. Hehehehe.....

# Berminat memetakan posisi saya dalam lingkungan kompetitif tersebut? Mariiii.....

#Bung (Sok) Bijak adalah karakter fiktif :D

Monday, November 8, 2010

Laporan Program Sosial JAMBUL (September-November 2010)

Aswrwb. Sahabat, jumpa lagi dalam laporan berkala program sosial JAMBUL :D. Buat yang lupa, sekarang formatnya diubah per tiga bulan sekali. *Jiii, menuduh orang pelupa, padahal diri sendiri pelupa! Hehehehe*

Nah, apa saja perkembangan dari Kecamatan Bubulan terkait program JAMBUL?

  1. Hingga bulan Oktober, telah tersedia 2417 jamban sehat bagi 3845 KK. *Lho, bukannya waktu itu terdapat 3609 KK? Yah, namanya juga manusia, pasti berkembang biak :D *. Jadi, sejauh ini telah 62,86% kebutuhan jamban sehat yang terpenuhi. 
  2. Jumlah 62,86% tersebut di-breakdown menjadi: 72,24% di Desa Bubulan; 86,43% di Desa Cancung; 45,62% di Desa Clebung; 41,77% di Desa Sumberbendo; dan 52% di Desa Ngorogunung. Sebuah wilayah dinyatakan berstatus Open Defecation Free (ODF) jika jumlah jamban sehat mencapai 95%.
  3. Rata-rata pemasangan per bulan adalah 4 buah jamban. Hmmm, tampaknya cukup lambat. 
  4. Sudah ada Peraturan Desa (perdes) yang mengatur tentang denda bagi para warga yang buang hajat di alam terbuka. Selain itu, perdes ini juga menyuruh agar setiap pasangan yang hendak menikah untuk menyediakan jamban sehat, setidaknya untuk keluarganya kelak. Jika sudah memiliki, maka diharapkan mereka menyumbang bagi warga lain yang membutuhkan. Akan tetapi, dalam pelaksanaannya, sistem denda tidak berlaku secara efektif. Belum ditetapkan besarnya denda yang akan dikenakan bagi para warga.
  5. Penyuluhan tentang sanitasi masih dilakukan oleh Dr Erni dan tim di sekolah-sekolah, pertemuan PKK, maupun pertemuan warga di Balai Desa. Menariknya, ada pemutaran film berjudul 'Mendadak Mules' *heu, kreatif ya judul filmnya* bagi anak-anak SD. Film itu dibuat oleh pemerintah pusat sebagai bahagian dari program STOP (Sanitasi Total dan Pemasarannya)
Saat ini, kami masih mengupayakan adanya kerjasama antar berbagai pihak untuk mendukung suksesnya program ini. Selain itu, ada kemungkinan jika program sanitasi ini dielaborasikan dengan program lain, seperti pemberdayaan ekonomi. Jika Sahabat ingin menyampaikan sumbangan saran maupun kritik, hubungi saya japri. Terima kasih atas perhatian kalian.

Wassalaam.

--Mutya Dyan Asthami--

Friday, November 5, 2010

Kaya = Bahagia?



Apa sih definisi bahagia menurut kamu?


Wednesday, November 3, 2010

Celoteh Adek (2): Sudah Waktunya

Sewaktu mengerjakan tugas dengan teman-teman kuliah, Adek memperhatikan salah seorang temannya yang tak berhenti menghembuskan asap rokok.

Adek: 'Eh, lo ngapain sih ngerokok terus, gak berhenti-berhenti?'

Teman: 'Fuuhhhh (sambil menghembuskan asap rokok) Gini ya De, orang kalau udah waktunya mati ya mati aja. Gak peduli apakah harus karena rokok atau enggak.'

Adek: 'Oh, gitu ya. Jadi kalau kita lagi lewat rame-rame, trus ngeliat lo lagi megap-megap karena asap rokok, kita bilang aja 'Eh, tuh si Deni (bukan nama asli) udah waktunya (mati) tuh. Oh ya udah yaaaa.... Kita lewat aja tanpa tolongin lo gitu?'

Teman: ==Mukanya kecut gak bisa ngomong==

Teman-teman: Huaaaahahahahahaha....... 

Jadi berpikir, setiap orang pasti mati, tapi apakah mereka juga diberi kesempatan untuk memilih dengan cara apa mereka mati? :)

Celoteh Adek (1): Dilema

Di suatu siang di rumah adek kandung dari kakek, muncullah sebuah studi kasus yang menarik.

Lagi nunggu tuan rumah keluar. Tiba-tiba....

Adek: 'Mbak, kalau kamu punya anak terus dia pengen ikutan dugem sama temennya, kamu mau apa?'